Content Marketing Apple Lewat Pemberdayaan Manusia

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on April 05, 2017 08:00 AM
Bagikan melalui :


Anda mungkin tak sadar bahwa sesungguhnya dalam diri Anda tersimpan kekuatan dahsyat. Kalau Anda bisa berdayakan, bukan mustahil Anda bakal menjadi manusia-manusia pintar.

“You’re more powerful than you think”  

Makna ini ditangkap oleh Apple Corp. untuk menyampaikan pesan yang bisa dilihat di video unggahan YouTube bertajuk Dreams
.

Namun untuk berdaya di mata Apple rupanya tak cukup hanya mengandalkan keahlian dan kepintaran manusia. Manusia perlu alat. Apple lantas menambahkan satu unsur bernama perangkat iPhone 5S. Maka kombinasi antara pengetahuan dan penggunaan perangkat smartphone itu menjadikan manusia dengan beragam profesinya bekerja lebih pintar.

Lihatlah seorang perajin cincin menggunakan iPhone 5S sebagai kaca pembesar hingga lebih gampang menempatkan intan tepat di tengah. Perangkat itu pula yang menjadi penerjemah saat seorang dokter menghadapi pasien yang beda bahasa. Petugas damkar merespon kilat ketika iPhone 5S meng-alert kebakaran. Kebetulan aplikasi di perangkat itu dilengkapi dengan lokasi dan jalur cepat menuju TKP. Video itu menceritakan tujuh profesi berbeda. Hingga dipungkasi oleh seorang peneliti tengah mendapatkan hasil uji keasaman tanah yang terpampang di layar iPhone 5S.

Peran protagonis yang dikedepankan Apple bukan lagi perangkat gacoannya. Bahkan Apple tidak pula meng-endorse pesohor dunia untuk mempresentasikan iPhone layaknya kebanyakan produsen smartphone. Cara marketing Apple bukan lewat iklan yang berbiaya sangat mahal. Kendati sebenarnya bukan perkara sulit bagi Apple mengucurkan ongkos marketing.

Apple memilih content marketing dengan menggunakan kanal-kanal media sosial dan mengisi website miliknya (owned media). Platform content marketing Apple tetap berupa video, image dan teks. Tetapi bintang film-nya adalah orang biasa dengan segala jenis pekerjaannya.

Perusahaan yang meraup keuntungan 46,9 triliun dolar tahun silam ini menggunakan pendekatan user experience. Mereka, para pengguna iPhone kebetulan sudah mengoptimalkan benar iPhone lebih dari sekadar alat telekomunikasi. iPhone berfungsi pula sebagai salah satu alat kerja atau minimal membantu bekerja. “Apple menuturkan kisah penggunanya melalui video," ujar Anton Rius, seorang konsultan pemasaran digital dari firma More Than Metrics, Seattle.

Masih kata Rius, Apple sangat memilih berbagai jenis profesi itu. Artinya pemilihan ragam pekerjaan yang hendak ditampilkan itu musti spesifik dan inspiratif. Kemasan content marketing Apple memberi pesan iPhone bukan sekadar perangkat telekomunikasi belaka. Namun beyond smartphone yang menakjubkan.

Itu kisah dua tahun silam, ketika Apple mendahului cara pemasaran lewat story telling, kendati masih berkorelasi langsung dengan produknya. Kebetulan cara seperti ini paling tepat dari sekadar pamer fitur dan kecanggihan teknologi.

Sukses dengan iPhone 5S, content marketing Apple berikutnya diarahkan ke iPad. Formatnya masih video yang dianggap tepat oleh Joseph Barbieri, Managing Director Content & Media Partnerships dari firma Sid Lee. Video, menurut Barbieri, mengusung seluruh aspek kunci dari cara ber-storytelling pada sebuah brand. Sebut saja di antaranya kegunaan (iPad), unsur yang menghibur dan peruntukan (iPad) itu sendiri.

Maka meluncurlah video berjudul Orchestrating a New Sound yang menampilkan konduktor Finlandia, Esa-Pekka Salonen. Apple ingin menunjukkan betapa iPad membuat seorang konduktor bekerja lebih mudah. Video iPad lainnya mempertontonkan seorang pewisata yang dimudahkan oleh aplikasi terjemahan di dalamnya.

“(Video-video itu) adalah contoh menakjubkan bagaimana sebuah brand melakukan story telling untuk menampilkan inovasi produknya. Konsumen ‘diposisikan’ sebagai tokoh protagonis (dalam video tersebut),” tandas Barbieri.

Rupanya meletakkan manusia sebagai subyek itu justru jauh lebih membuat content marketing Apple terlihat memiliki daya tarik. Apple telah membalikkan. Apapun jenis produk  Apple (hardware, software dan layanan) yang ditawarkan tetaplah manusia dengan keragaman kehidupannya itu lah target bisnisnya. Sementara produk Apple kini diletakkan sebagai obyek.
 

Content Marketing Apple Hari Ini

Lewat konsep ini maka cara komunikasinya adalah bukan apa yang ditawarkan sebuah produk kepada konsumennya. Cara seperti ini hanya menghasilkan kesan bahwa konsumen tidak diberi pilihan. Dengan kata lain pilihannya hanya satu. Cara Apple adalah bagaimana konsumen diberi berbagai pilihan. Kalau tidak cocok yang ini, maka sebaiknya pilih yang itu. Meski, seluruh pilihannya jatuh ke produk-produk Apple juga.

Sekarang kalau Anda sempat berkelana di www.apple.com terlihat konsep content marketing Apple yang melibatkan konsumen. Apple bertutur lebih komprehensif. Diawali dengan mengenalkan produk termasuk keunggulan spesifikasi dan kandalan fitur terbaru. Karena Apple pun telah mengembangkan e-commerce-nya, maka calon konsumen yang tidak perlu informasi lebih lanjut, dapat segera mengikuti proses bertransaksi.

Selanjutnya masih ada bagian-bagian lain seperti umpamanya chapter di mana konsumen pemula diberi pemahaman “mengapa Anda perlu move on ke iPhone”. Atau pengenalan Apple Pay yang dianggap sebagai layanan strategis, dijejalkan pula.

Bagian terakhir dari seluruh presentasi produk tersebut adalah content marketing Apple berupa beyond product. Jika masuk, sebutlah ke segmen bisnis, maka Anda akan diantarkan menjelajahi penggunaan iPhone –misalnya- yang sangat optimal menjadi perangkat pendukung bisnis lengkap beserta akses ke aplikasi yang ditawarkan (App Store).

Lagi-lagi, Apple menjadikan konsumen (baik perorangan maupun korporasi) ambil bagian untuk bercerita. Ada bermacam perusahaan mengisahkan sukses proses bisnisnya. Presiden Direktur, CEO atau petinggi lainnya ikut memberi komentar. Bahkan Apple membuatkan video untuk masing-masing perusahaan itu. Pesan pemberdayaan manusia dan perusahaan sangat terasa oleh kehadiran perangkat Apple.

 
Source: http://www.apple.com/business/success-stories/

Mungkin saja, di balik content marketing Apple ini sebenarnya juga menjadi media promosi atau kampanye bagi perusahaan rekanan Apple. Anda kenal Finnpilot?

Tidak?

Hmm…. Cara content marketing Apple lewat situsnya (selama Desember 2016-Februari 2017 dikunjungi 1,6 milar kali) mengenalkan kepada Anda apa dan siapa Finnpilot. (*)