Hindari 5 Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Storytelling

by : Rakhmat Kusnadi


Posted on December 30, 2016 13:00 PM
Bagikan melalui :


Pada dasarnya manusia menyukai cerita. Melalui sebuah cerita, manusia dapat mengungkapkan kisah hidupnya, atau melalui cerita manusia mendapat inspirasi untuk menjadi lebih baik. Dan, cerita merupakan sebuah senjata ampuh untuk bidang pemasaran.

Dalam bidang pemasaran, konon pemasaran yang terbaik dilandasi sebuah cerita yang diceritakan “dari mulut ke mulut”. Artinya, jika suatu produk atau jasa yang ditawarkan itu mengandung banyak manfaat bagi audiens, dengan sendirinya mereka akan silih merekomendasikan satu sama lainnya. Dengan demikian, produsen tidak lagi memerlukan sebuah iklan untuk memasarkan produk atau jasa yang ditawarkanya.

Ilustrasi di atas, seakan telah menjadi hukum pemasaran yang paling primitif. Di mana, testimonial dari audiens yang telah menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh sebuah merek, dapat memengaruhi calon pengguna baru.

Mengadopsi hal tersebut di atas, atau pemasaran “dari mulut ke mulut” berbasis cerita, dewasa ini berkembanglah teknik baru dalam pemasaran, yakni marketing with storytelling. Teknik pemasaran berbasis cerita ini, merupakan salah satu konsep yang diusung dalam content marketing. Belakangan mulai banyak perusahaan yang memasarkan produk atau jasa dengan sebuah cerita.

Namun, pada banyak kasus pemasaran dengan cerita, masih banyak kesalahan yang masih terjadi dalam membuat storytelling. Padahal, hal tersebut akan memiliki dampak yang cukup besar bagi kredibilitas perusahaan tersebut.

Untuk menghindari berbagai kesalahan dalam membuat pemasaran berbasis cerita, atau untuk sekadar membuat storytelling, Anda perlu memerhatikan kesalahan-kesalahan yang sering terjadi, agar storytelling yang Anda buat menjadi lebih berkualitas.

Lima kesalahan yang harus dihindari dalam membuat storytelling:

1. Hindari Membuat Pembenaran Tanpa Data

Seringkali para marketer’s menyajikan banyak cerita tentang produk atau jasa yang ditawarkannya secara berlebihan (over), tanpa disertai data yang sahih. Padahal data yang akurat dan riil, menjadi bekal utama untuk mendapatkan kepercayaan dari audiens.

2. Hindari Bercerita Secara Klise

Anda perlu mengenal latar belakang target audiens. Sehingga dalam menyampaikan cerita, Anda perlu melakukan pendekatan yang lebih dapat diterima oleh mereka. Ingat! Hindari bercerita hal-hal yang klise, sebab hal tersebut akan dianggap “lebay” oleh audiens Anda. Bumbu sebuah cerita itu penting, tetapi jangan terlalu berlebihan dalam menuangkannya.

3. Hindari Terlalu Fokus Pada Produk

Saat membuat cerita, tugas Anda adalah meramu bagaimana audiens akan tertarik dengan produk atau jasa yang Anda tawarkan. Namun perlu dicatat, bahwa teknik pemasaran dengan cerita tidak melulu harus mengagungkan produk atau jasanya itu sendiri. Anda harus dapat menyampaikan cerita sesuai dengan kebutuhan audiens, buatlah mereka menjadi pembaca yang nyaman, lalu buatlah cerita yang meyakinkan bahwa produk atau jasa yang Anda tawarkan menjadi solusi tepat bagi audiens Anda.

4. Hindari Bercerita Tanpa Struktur yang Baik

Dalam storytelling, struktur cerita merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, Anda perlu membangun struktur dalam menyampaikan cerita. Dengan adanya struktur, audiens tidak akan merasa bosan dalam membaca cerita yang Anda tawarkan.

5. Hindari Membuat Cerita yang Bertele-tele

Cerita yang panjang, belum tentu menjadi cerita yang menarik. Oleh karena itu, buatlah cerita yang efektif, sehingga audiens akan langsung menerima informasi dengan optimal. Dewasa ini, boleh jadi cerita yang ringkas dan efektif akan lebih banyak dibaca, ketimbang cerita yang panjang dan bertele-tele yang justru akan menyita banyak waktu audiens Anda.