Inspirasi Brand Storytelling: Magno & Spedagi, Produksi Desa Kelas Dunia

by : Eddy Suhardy


Posted on March 15, 2017 12:00 PM
Bagikan melalui :


Movement lewat Spedagi dan bambu adalah salah satu solusi yang dikerjakan dari kacamata seorang desainer. Singgih mencoba memanggil para “pemikir” desa untuk datang dan membantu memecahkan masalah yang ada. Dengan kehadiran pihak luar ke desa menjadi endorsement untuk menyadarkan masyarakat desa tentang pentingnya menjaga berbagai kearifan lokal yang kini mulai ditinggalkan.

Pesawat radio, siapa yang masih punya benda ini di rumah? Mungkin masih ada yang menyimpan. Tetapi masihkah ada orang yang mau membeli radio, hanya radio, saat ini?

Ternyata banyak. Apalagi saat menatap radio kayu bermerek MagnoDesainnya memukau. Bahannya serba kayu dengan pengerjaan  tangan yang halus hingga ke detail. Menurut kisah satu unit Magno bisa memakan waktu 16 jam pengerjaannya. Karya desain radio kayu itu sangat berkelas, tidak seperti produk masal. Lebih dari 15 tahun Magno beredar. Di Jepang, Amerika, Eropa. Di Indonesia ada juga, namun dalam jumlah agak terbatas, karena orientasinya waktu itu memang pasar ekspor.

 
 

Yang pertama adalah desain

Prototip pertama lahir pada 1990-an, saat desainernya Singgih Susilo Kartono memajukan wooden radio sebagai karya akhir di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB). 

Selepas itu pesona Magno menyebar ke berbagai belahan dunia.  Lewat ajang penghargaan desain tentunya. Mulai dari International Design Resource Awards (IDRA) di Seattle, Amerika Serikat,  Japan Good Design Award,  Design for Asia di Hong Kong, sampai Design Plus Award – Ambiente, Frankfurt, Jerman. Di ajang itu karya Singgih menyabet hampir semua kategori penghargaan tertinggi yang patut diberikan atas karya kayunya.

Dari ajang semacam itu pula Magno punya brand storytelling.  “Setiap presentasi saya kan harus menjelaskan latar belakang, konsep serta idealisme,” katanya dalam percakapannya dengan Grid, 10 Maret lalu. 

 

Desa, sebagai storytelling

Ringkas cerita, menurut Singgih, semua karya yang dibuat tak bisa lepas dari pemikirannya tentang desa. Dan desa dalam konteks Magno berawal adalah desa tempat tinggalnya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Desa punya potensi yang luar biasa. Pohon-pohon di sekitarnya menyediakan bahan kayu. Kayu itu pula mewujud dalam berbagai produk desainnya.  Lalu, demi kesinambungan dan pelestarian lingkungan, Singgih memprakarsai penanaman pohon-pohon baru.

Ajang penghargaan di berbagai belahan dunia adalah modal pertama dari brand storytelling Magno. Banyak pihak tertarik menjadi distributor radio kayu ini. Namun dari sekian yang berminat , Singgih memilih beberapa yang paham “konsep dan tujuan” di balik karyanya.

Jika Anda membuka website magno-design.com kisah lebih detail di balik brand ini bisa Anda simak lebih jauh. Kisah yang bukan sembarang kisah, karena di dalamnya ada semacam penjelasan tentang nilai-nilai.  Dan jika calon konsumen merasakan bahwa ada value lain di luar produk yang memang bagus, maka terciptalah koneksi yang sangat personal. Nilainya bukan sekadar sejumlah dollar yang hatus dikeluarkan.

“Saya cuma ingin menunjukkan bahwa produk desain kelas dunia bisa dihasilkan dari potensi yang ada di desa. Dan ini berlaku bukan cuma di desa saya. Desa di mana pun di Indonesia bahkan seluruh dunia,” tuturnya.

Pendapat Singgih tentang desa dengan semua “harta karun” (potensi dalam bahasa Singgih) di dalamnya mengantarkan ia ke fase pemikiran berikutnya.  Jika pada kasus Magno, sisi filosofi desa dan potensinya mengantar pada karya desain yang berujung kepada bisnis, kini ia menciptakan sepeda bambu.

 

Spedagi dan movement

Soal sepeda bambu yang ia beri nama Spedagi, menurut Singgih orientasinya bukanlah keuntungan bagi pihaknya. Spedagi di mata Singgih adalah semacam salah satu tools untuk sebuah movement. Ya, sebuah gerakan agar masyarakat mau menengok, mengenal, memahami dan mau beraksi untuk mengembangkan desa.

 

Kenapa sepeda? “Ya, kalau dari sisi produk, radio atau sepeda, kan sudah masuk ke taraf yang mature. Mau diapakan juga, ya bentuknya sekitar seperti apa yang sudah kita kenal,” tutur Singgih. Sepeda bambu pun menurutnya bukan barang baru. Sudah ada yang membuat, sebelumnya.

Tetapi sepeda bambu yang dibuatnya memang punya semangat berbeda. Ya soal gerakan tadi.  “Jadi yang mau ditunjukkan lewat Spedagi dengan bambu, bukan keuntungan bisnis, tetapi bagaimana menggerakkan orang untuk kembali menengok potensi apa yang ada di desa. Bambu adalah contohnya.”

 

Bambu dan Revitalisasi Desa

Di area Desa Kandangan ada kawasan dengan rumpun-rumpun bambu yang tadinya seperti tempat sampah. Lalu bersama warga kawasan itu dibersihkan. Setelah bersih dan nyaman secara berkala diadakan semacam pasar. Namanya Pasar Papringan.

Semua jajanan dan produk desa dijajakan. Orang-orang tertarik datang. Untuk melihat dan merasakan keunikannya. Magno dipajang, Spedagi bisa digunakan untuk menyusuri keindahan desa. Dan jika ada yang bertanya maka karya yang baik itu bisa dijelaskan sebagai karya dari desa itu sendiri.

Singgih memang bukan sekadar desainer. Kegelisahan tentang desa masih menggelayut. Dalam tuturannya ia mengatakan bahwa di balik keindahan dan kedamaiannya, desa menyimpan banyak masalah.

“Spedagi merupakan sebuah gerakan yang bertujuan melakukan revitalisasi desa, membawa desa kembali menemukan  jati dirinya sebagai komunitas lestari dan mandiri. Peran desa terhadap keberhasilan upaya membangun kehidupan yang berkelanjutan sangat signifikan di saat ini dan masa mendatang. Kehidupan yang lestari di bumi tidak akan berhasil diraih jika populasi manusia masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan.“

 
 

Singgih percaya bahwa desa memberikan peluang lebih besar untuk meraih kehidupan berkualitas yang sesungguhnya, ketika kesejahteraan manusia dan kesejahteraan alam bisa dibangun bersamaan.

Well, begitulah brand storytelling di balik Spedagi, juga Magno. Tentang karya dari sebuah desa di Indonesia, dengan semangat keyakinan bahwa kemakmuran desa adalah kemakmuran negara. “Kita suka salah sih, mustinya Indonesia itu dikembangkan sebagai negara desa,” kata Singgih dengan sungguh-sungguh.

Tentang Spedagi, kita akan lanjutkan kisahnya di artikel lain. Anda punya pengalaman tentang brand storytelling lain yang tak kalah inspiratif? Kenapa tidak membagikannya di Grid?