Ketika Jaringan Kerja Dan Pertemanan Tak Lagi Cukup

by : Dani Satrio


Posted on April 18, 2017 13:10 PM
Bagikan melalui :


Semesta digital memungkinkan kita untuk membangun kepercayaan berdasarkan data faktual yang sahih.

Belum lama berselang, saya bertemu dengan seorang teman. Dia bercerita tentang usaha yang sedang digelutinya sekarang. 

Gue jualan band!” katanya dengan senyum sumringah.

Sepengetahuan saya, sejak dulu dia memang sudah aktif di bisnis musik. Sempat jadi manajer buat beberapa buah band, lalu jadi A&R executive di label rekaman, juga manajer marketing di label lainnya. Saya mengenalnya pun dari pergaulan ketika saya masih aktif menjadi jurnalis musik di HAI.

Jadi, apa yang istimewa? Tanya saya.

Dengan semangat ’45, dia lantas membeberkan ide dan rencana besarnya untuk usahanya kali ini. Perbedaan mendasarnya, menurut dia, kali inidia tidak menjual band atau artis langsung pada pendengar seperti yang pernah dilakoninya dulu. Dia menjadi booking agent artis untuk user, dalam hal ini promotor, event organizer atau brand yang membutuhkan. Biarpun sekilas sama, tapi kata teman saya masih dengan semangat juang yang membara, dua hal ini sungguh sangat berbeda. 

Gue berjualan kepercayaan. Baik ke band-band yang gue tangani, juga ke klien yang mau memakai jasa mem-booking artis gue,” tegasnya.

Sebagai orang yang sudah lama jungkir balik di dunia musik, sudah sewajarnya jika teman saya ini punya jaringan cukup luas yang bisa dijadikan modal untuk memulai usaha macam ini. Dengan portofolio-nya yang terbilang cukup kinclong dan “bersih”, seharusnya pertemanan itu mudah saja didapat.

Nyatanya, dia mengaku tak mau jumawa melangkah hanya bermodalkan kedua hal itu. Pasalnya menurut dia bisnis musik di Indonesia itu tak ubahnya belantara. Belum ada aturan-aturan baku yang bisa dijadikan pegangan oleh pelakunya. Parameter-parameternya pun belum lengkap tersedia. Sehingga sulit baginya untuk menjalan kan bisnis yang bisa benar terukur laba ruginya jika hanya bermodal jaringan dan pertemanan.

“Lagi pula, kalau cuma (ber-)modal itu saja apa bedanya gue nanti dengan calo-calo band yang sudah ada sekarang?” kata teman saya beretorika.

Beruntung si teman ini tergolong digital native alias kaum yang sejak lahir telah dikarunia logika biner yang kuat. Jadilah dia melengkapi usaha barunya ini dengan segala apa yang bisa dihimpun dan dibuatnya dari/di semesta digital. Untuk menjawab isu kepercayaan yang dari mula selalu membayangi bisnis ini, dia membangun sebuah platform web yang dijadikan muara dari semua kegiatan bisnisnya ini. Tak hanya itu, dia pun berinvestasi dengan membeli program sistem operasi yang khusus dibuat untuk keperluan booking dan penjadwalan lengkap dengan personal dashboard yang mampu melacak transaksi, baik untuk sisi artis maupun klien pengguna jasa artis. 

Pertimbangannya simple saja. Menurut dia semesta digital itu transparan. Nyaris mustahil untuk menutupi sesuatu ketika kita masuk kedalam jaringan. Dan seperti kata orang tua dulu, transparansi dalam bisnis adalah kunci kepercayaan. Ketika semua transaksi dan komunikasi yang dilakukan di platform ini bisa diakses dengan leluasa oleh pihak-pihak yang berkepentingan, hal itu akan mendongkrak kepercayaan.

Buat membangun kepercayaan itu pula, teman saya ini menitik-beratkan strategi promosinya dalam bentuk edukasi ke semua stakeholder. Bahkan hingga ke sesama agen yang sesungguhnya adalah kompetitornya. Bak booking agency evangelists aja tingkahnya.

“Kalau semua punya frame work dan mindset yang sepaham, kerjaan gue akan lebih enak,” begitu dalihnya.

Dalam waktu tak lebih dari setahun, beberapa nama besar di blantika musik Indonesia bergabung dalam rosternya. Brand dan EO pun mulai mendekat padanya. Secara bisnis, P/L-nya di tahun pertama pun cukup menggembirakan.

Memanfaatkan kefasihannya sebagai digital native, dia menjalankan gerilya marketingnya secara lebih dominan di semesta digital. Beberapa akun media sosial untuk perusahaan barunya ini, dipegangnya sendiri demi eksperimentasi membangun komunikasi yang pas bagi audiensnya di tiap-tiap platform media sosial tersebut.

Gue lagi kepikiran untuk bikin akun instagram baru buat event-event-nya Amity Asia (nama perusahaannya itu, RED.). Soalnya post berisi poster event itu nggak selalu senada gayanya dengan tonal konten yang gue bayangkan buat Amity,” terangnya serius.

Sejak beberapa waktu belakangan, dia pun mulai memfungsikan fitur e-newsletter yang mengabarkan tentang aktivitas artis-artis yang ada di rosternya kepada para klien dan calon klien. Mulai dari rilis single, album, konser, showcase, hingga ulang tahun personil serta band. Disajikan secara bilingual, konten-konten e-newsletter itu digarap dengan cukup serius serta bercerita. Tak sekedar news update dengan foto seadanya.

Selain itu, demi meyakinkan klien tentang prestasi artis-artisnya, teman saya ini rajin mengulik data analytics baik dari media sosial sang artis, maupun data lain yang bisa dikumpulkannya dari beberapa platform streaming musik yang populer di masyarakat. Semua itu dikumpulkannya dalam sebuah resume, untuk dipresentasikan ketika dia mengajukan nama-nama artis kepada calon klien penggunanya.

“Biar gue nggak dianggap asal ngecap. Biar mereka (klien) juga nggak sembarangan menentukan pilihan hanya berdasarkan selera subyektif. Biar kita sama-sama belajar,” alasannya mengenai metode yang dianggap sebagai amunisi termutakhir miliknya itu.

Tak sia-sia usahanya itu. Kini tak kurang ada 25 artis dari berbagai genre, serta kategori  - besar, menengah, new-comer - yang sudah masuk rosternya. Dia dan agensinya pun kini tengah dipercaya untuk menangani beberapa festival music berskala nasional.

“Dulu pusing, dan sekarang sih tetep pusing. Bedanya sekarang pusing senang. Hahahaha!” pungkasnya.