Memaksimalkan E-mail Marketing Anda

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on May 30, 2017 12:00 PM
Bagikan melalui :


Meskipun tergolong paling “sepuh” di dunia digital marketing, e-mail marketing ternyata masih menjadi primadona yang efektif dalam mendatangkan konversi ke penjualan.

Di tahun ini, e-mail berulang tahun yang ke-46.

Jangan kaget! Memang e-mail sudah setua itu. Dikirimkan pertama kali pada tahun 1971 oleh Ray Tomlinson, e-mail pertama di dunia berisikan sebuah pesan pendek untuk mengetes jaringan yang dikembangkan oleh tim ARPANET. Ray Tomlinson sendiri merupakan salah seorang programmer yang ikut serta dalam pengembangan proyek ARPANET di MIT (yang akhirnya melahirkan apa yang kita sebut sebagai internet hari ini). Isi e-mail bersejarah ini memang agak kabur. Menurut sang pengirim yang lupa-lupa ingat dengan isi pesannya, pilihannya cuma dua kata, yakni Test123 atau QWERTYUIOP. Dua-duanya sama-sama tidak memiliki makna khusus. Meski tidak jelas, apa yang dikirimkan Ray membuka jalan bagi pengembangan e-mail yang kita kenal sekarang. Sejak hari itu, teknologi e-mail kian berkembang. Sampai akhirnya, Gary Thuerk yang bekerja di Digital Equipment Corp.  membuat sejarah di tahun 1978.

Pria berkacamata ini berhasil mengirim sebuah e-mail blast yang ditujukan ke empat ratus orang. Yang harus dicatat, e-mail tersebut dikirim untuk mempromosikan unit komputer yang dijual perusahaannya. Kejadian pada 39 tahun silam ini dicatat sebagai kegiatan e-mail marketing perdana di dunia. Pengaruhnya sungguh luar biasa. Lewat kegiatan yang memakan waktu beberapa menit ini, Digital Equipment Corp. berhasil meraih penjualan sebesar 13 juta dolar AS di masa itu. Nilai ini setara dengan pendapatan 78,8 juta dolar AS di hari ini. Saat itu menjadi tonggak bersejarah bagi dunia marketing. Electronic mail menjelma menjadi tool efektif untuk mempromosikan pesan. Di sisi lain, e-mail yang dikirimkan Gary tersebut juga dianggap sebagai e-mail spam pertama yang beredar di dunia internet. Jadi jelas, sejak pertama kali dikirim pun, e-mailmarketing memang dianggap efektif untuk penjual, namun dianggap gangguan bagi sebagian penerima.

Meski keampuhan e-mail marketing sudah terbukti nyata, dunia tidak serta merta yakin pada kelestarian e-mail marketing. Bahkan, di tahun 1989, pertanyaan seputar efektivitasnya kembali muncul dari para ahli pemasaran di Amerika. Dunia masih belum percaya, hal-hal yang paperless akan bisa menggantikan teknologi yang menggunakan kertas layaknya mesin fax.

Tidak sampai dua tahun kemudian, keraguan itu terjawab. Saat World Wide Web “lahir” di tahun 1991, Hotmail membantu pengguna internet di seluruh penjuru bumi untuk memiliki e-mail gratis. Sebelumnya, e-mail adalah barang “mewah” yang hanya dimiliki universitas dan korporasi. Kepemilikan e-mail secara massal ini sangat berpengaruh pada efektivitas e-mail marketing. Mulai saat itu, proses marketing B2C (langsung ke calon konsumen) juga bisa dilakukan melalui e-mail.


Dan waktu pun terus berjalan…


E-mail
pun menjadi salah satu tool andalan di dunia pemasaran. Hampir semua perusahaan menggunakan e-mail untuk menyampaikan pesan, menjangkau konsumennya secara berkala, dan berharap bisa mendapatkan konversi penjualan yang baik karenanya. 
Hal ini sempat membuat pengguna e-mail merasa terganggu dengan hantaman pesan yang mereka dapat. Terlebih lagi, bila pesan yang dipaparkan kepada mereka tidak relevan dengan kebutuhannya.

Gangguan yang dirasakan user pun membuat pengembang e-mail menjadi lebih jeli dalam menggolongkan berbagai e-mail yang dikirim secara blasting sebagai spam. Buntutnya, efektivitas proses e-mail marketing pun menurun. Tapi, apakah ini pertanda kita harus meninggalkan e-mail sebagai jalan masuk memasarkan produk kita? Ternyata tidak! Pasalnya, berbagai studi masih mengatakan bahwa e-mail marketing memiliki nilai konversi yang sangat besar pada sales lead.

Salah satunya dilakukan Experian Marketing Services, sebuah perusahaan digital marketing di Amerika. Menurut studi yang dirilis pada pertengahan 2016 lalu, konversi yang datang dari e-mail transaksi, sukses menghasilkan revenue lebih besar enam kali lipat dari e-mail marketing yang lain. Artinya, e-mail transaksi yang dikirimkan sebagai bukti pembelian, bahkan memiliki kemampuan untuk menghasilkan pembelian berikutnya. Satu hal yang dahulu tidak terpikirkan oleh para ahli pemasaran.

Studi lain yang diterbitkan oleh Venturebeat mengatakan, bahwa di tahun 2014 e-mail marketing bisa meningkatkan angka pemasukan rata-rata hingga 1,2 juta dolar AS di Amerika, untuk perusahaan-perusahaan yang melakukan pemasaran B2B. Angka ini naik sekitar enam puluh persen dari revenue rata-rata yang dihasilkan di tahun 2013. Namun, ada catatan khusus mengenai hal ini. Semua marketer yang sukses meraih pencapaian ini ternyata menggunakan mesin marketing otomasi untuk memaksimalkan proses e-mail marketing mereka. Dengan penataan data costumer yang baik, pengelolaan CRM melalui e-mail marketing terbukti ampuh.

Ini wajar saja. Pasalnya, kebanyakan orang mengeluh, mereka mendapatkan penawaran yang tidak relevan dengan yang diharapkan. Dengan menggali data costumer dengan lebih dalam. Dengan mengaitkannya ke kebiasaan mereka di digital, perusahaan bisa mendapatkan persona yang lebih tajam. Ini memungkinkan mereka melakukan kustomisasi pendekatan terhadap beberapa jenis costumer yang mereka miliki. Via kustomisasi dan membuat semuanya menjadi lebih relevan terhadap penerima e-mail, pemasaran melalui e-mail kembali menjadi senjata andalan. Pengelolaan dengan cara automasi juga mutlak menjadi pilihan.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Sehebat-hebatnya proses automasi, cara kita menyampaikan pesanlah yang paling menjamin kesuksesan konversi. Demi mendukung relevansi, cerita yang disampaikan untuk target market haruslah sesuai, baik dengan tingkat pemahaman dan bahasa yang digunakan. Untuk itu, diperlukan pencerita yang baik yang bisa menyampaikan pesan dengan hasil maksimal. Tunggu apalagi? Optimalkan e-mail marketing Anda mulai sekarang!