Menciptakan Emosi Positif Storytelling, Penjualan Pun Meningkat

by : Sukrisna Wiharja


Posted on October 13, 2016 16:58 PM
Bagikan melalui :


Emosi positif dalam storytelling memberi pengaruh dalam kehidupan konsumen. Emosi yang sama juga memainkan peran penting saat mengambil keputusan membeli. Inilah hasil riset yang dilakukan oleh Antonio Damasio, profesor di bidang neuroscience di University of Southern California, yang diterbitkan dalam Psychology Today.

Ketika melihat sebuah produk, konsumen ternyata menggunakan emosi daripada informasi yang didapat. Penelitian ini juga menunjukkan, respon emosional terhadap iklan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada konten iklannya sendiri.

Ada lagi. Penelitian yang dilakukan oleh Advertising Research Foundation menyimpulkan banyaknya “like” bisa menjadi tolok ukur awal apakah produk yang diiklankan tersebut akan meningkat penjualannya atau tidak.

Pada 2013, Facebook melakukan studi terhadap lebih dari 600.000 pengguna. Pada babak akhir, Facebook memperoleh kesimpulan: bahwa pesan-pesan positif yang muncul di laman seseorang akan disambut positif, begitu juga sebaliknya.

Belajar dari contoh di atas brand bisa mengambil konklusi. Bahwa dengan terus melibatkan emosi positif, merek dapat memelihara keterlibatan yang lebih positif di sekitar merek mereka.

Salah satu brand yang sukses mengidentifikasi produknya dengan emosi positif adalah Coca Cola. Brand ini mengusung konsep besar “kebersamaan” dalam setiap branding dan strategi kontennya.

Setelah sukses mendefinisikan soal “kebersamaan”, langkah berikutnya adalah membuat berbagai cerita sederhana.  Semua cerita selalu merujuk kepada konsep dasarnya.

Dan ketika emosi positif ini mengena pada konsumen, maka bisa dipastikan penjualan pun bakal meningkat. Lantaran emosi selalu mengarah pada tindakan, termasuk tindakan apakah ia akan membeli produk tersebut atau tidak.

Jadi, mari ciptakan emosi positif dalam narasi produk kita.