Menjadi Viral Adalah Hak Segala Bangsa

by : Muhammad Reza Saputra


Posted on July 30, 2017 12:00 PM
Bagikan melalui :


Viral adalah sebuah kosa kata yang saat ini sering ditemukan di berbagai macam media, kata yang terbilang baru eksis dari akhir tahun 2016. Kata yang biasanya diselipkan ke dalam satu kalimat untuk menyatakan suatu kejadian atau berita yang sedang gempar dibicarakan.

Belakangan ini kita sering mendengar kata viral dari konten yang ditemukan melalui media sosial, ada beberapa aspek yang membuat sebuah konten menjadi viral. Berbagai macam keuntungan bisa di rasakan setelah sebuah brand setelah menciptakan konten yang viral, salah satu keuntungan yang  sudah pasti didapatkan oleh pihak brand adalah menimbulkan sentiment yang terjadi di media sosial, bisa berbentuk negatif atau positif tergantung bentuk konten yang diberikan brand kepada audiens. Tentunya yang akan menjadi keuntungan bagi brand adalah sentiment positif yang bisa meningkatkan awareness, engagement dan traffic.

Beberapa brand fenomenal seperti  IndoEskrim menyajikan konten video jenaka dengan ciri khas ala sinetron kolosal televisi nasional. Keunikan ini membuat video ditonton lebih dari dua juta kali di akun youtubenya, dan di-feature di instagram @9GAG yang menarik perhatian followersnya hingga ditonton lebih dari sepuluh juta kali. Dan lebih serunya lagi, banyak bermunculan meme ataupun video parodi yang ikut meramaikan.

Jika dilihat dari sisi story, BukaLapak berhasil menggambarkan arti keluarga pada video Bu Linda yang muncul bertepatan dengan momen hari Imlek dan telah ditonton lebih dari 1 juta kali di akun youtubenya. Video ini dikemas dengan story telling yang relevan dengan momen yang sedang terjadi, memicu emosi penontonnya, sehingga menimbulkan aksi yaitu share konten yang membuat video ini semakin viral!

Namun, konten viral tidak hanya berasal dari brand saja. Dengan kekuatan media sosial, seorang individu juga dapat menciptakan konten yang viral. Akhir-akhir ini, seorang netizen menceritakan sebuah kejadian menyedihkan tentang seorang driver tranportasi online yang dihipnotis hingga motornya hilang. Konten tersebut mendapat reaksi positif dan engagement yang dihasilkan pun membuat konten ini viral. Dengan adanya story tentang driver ini menimbulkan simpati hingga akhirnya melakukan aksi sukarela untuk memberikan  donasi langsung kepada korban agar dibelikan motor baru.

Viral pun bisa datang dari sektor pemerintahan, Bapak Presiden Jokowi juga sering membuat konten melalui vlognya yang menjadi pembicaraan para netizen. Selain itu Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, juga sering menghasilkan konten yang viral dari tingkah lakunya yang unik, seperti salah satunya videonya yang sedang berjoget diatas kapal dengan penuh keriangan.

Ada buku berjudul “Service Power, From WOW to NOW” memperkenalkan elemen 5S, yakni Story, Style, Synergy, Substance, dan Surprise. Jika dikorelasikan dengan konten-konten viral di atas 5S ini menjadi penentu kenapa konten tersebut bisa menjadi viral.

Story, cerita, bercerita dan menceritakan merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah konten. Bagaimana message brand dapat dikomunikasikan melalui sebuah cerita yang tak hanya menarik, tapi menjadikan para penikmat konten terus teringat oleh si pencerita (Brand) seperti yang dilakukan oleh Buka Lapak.

Style,  keunikan menjadi faktor yang memiliki dampak yang luar biasa, konten yang disajikan secara unik dan berbeda, menghasilkan konten segar yang menyita perhatian khusus bagi penikmat seperti yang dilakukan oleh IndoEskrim.

Synergy, konten yang disajikan memiliki relevansi pada kehidupan audiens. Dengan mengangkat unsur humor pada sinetron kolosal Indonesia dan memadukannya dengan varian kuliner nusantaranya menjadi benang merah yang tepat untuk menanamkan memori yang kuat terhadap brand IndoEskrim.

Substance, konten yang viral dipicu oleh bagaimana konten tersebut dapat menggerakan emosi audiencenya. Dengan adanya kejadian seorang bapak driver tadi, memperlihatkan bahwa simpati dapat mendorong aksi galang dana untuk dapat menolong bapak driver sehingga dapat bekerja lagi.  

Surprise, apakah cerita yang tersebut memberikan experience yang baru kepada audiensnya.  Sesuatu yang unik, belum pernah ada sebelumnya tentu menjadi kunci konten tersebut akan viral atau tidak. Jika dilihat dari video IndoEskrim, cerita yang mereka sampaikan out of the box namun tetap relevan dan memberikan kesan lucu dan surprise. Bila kebanyakan kompetitornya menyajikan konten yang fokusnya untuk memperlihatkan pada kelezatan es krimnya, namun hal itu tidak berlaku bagi IndoEskrim. Begitu pula dengan video Bapak Jokowi dan Ibu Susi yang menjadi hal baru dalam dunia pemerintahan, mereka tak sungkan memperlihatkan aksinya yang tanpa menurunkan kredibilitas sebagai pemimpin negara.

Lalu? Menjadi viral bisa dilakukan oleh siapa saja, baik sebagai brand ataupun individu tertentu.  Unsur 5S menjadi faktor penting untuk menentukan apakah konten pantas untuk bisa menjadi viral, tapi tentu harus didukung dengan pendistribusian konten yang sesuai sehingga dapat menjangkau audiens lebih luas.

Jadi, viral atau tidak menjadi viral, Content is the major factor! And Still The King!