Menulis dengan Gaya Storytelling

by : Eddy Suhardy


Posted on December 08, 2016 15:00 PM
Bagikan melalui :


Dalam dunia tulis menulis – berkaitan dengan media massa – ada satu gaya yang disebut sebagai feature (tulisan khas). Sebuah feature disajikan selayaknya sebuah cerita. Penulisnya bertindak sebagai seorang pencerita (storyteller).

Dibandingkan dengan penulisan piramida terbalik yang kebanyakan dipakai pada tulisan berita keras atau berita lempang (hardnews, straight news), penulis feature memiliki kebebasan (subjektif) dalam menyampaikan fakta atau informasi.

“A feature story is a creative, sometimes subjective, an article designed primarily to entertain and to inform readers of an event, a situation or an aspect of life”

(Daniel Williamson, Feature Writing for Newspaper, Hastings House Daytrips Publishers, 1975)

Secara bebas, gambaran dari pernyataan Williamson bisa kita artikan antara lain seperti ini:

Kreatif: memberikan ruang kreatif bagi penulisnya dalam menyampaikan informasi; yang kemudian penulis feature misalnya memakai gaya bertutur seorang storyteller

Subjektif: proses penyusunan dan pemilihan informasi mana yang menarik atau penting diserahkan kepada penulis. Demikian pula dalam menentukan sudut (angle) penulisan

Menghibur: memberikan kesenangan kepada audiens karena tulisan feature dibawakan bak sebuah cerita. Tulisan feature relatif awet. Bisa kapan saja dinikmati; tidak terlalu terikat aktualitas

Informatif: hasil akhir tulisan memberikan pemahaman kepada audiens karena kelengkapan deskripsi dan kedalaman

Human interest: menyentuh relung kemanusian/minat insani menggugah kondisi emosi audiens. Dari sedih hingga senang, dari lesu sampai bergairah; mengangkat banyak hal yang mungkin luput dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tulisan “bercerita”  kini dipakai dalam penulisan online.   Biasanya relatif lebih panjang. Karena panjang, pembuatannya pun relatif agak lama.  Kenapa? Karena ada gabungan harus mikir  agar lebih "dalam" dan menyusun cerita kreatif. Kreatif dalam rangka: bagaimana caranya membuat tulisan yang menarik.

Menarik karena jalan ceritanya mengasyikkan. Menarik karena informasinya pun lengkap dan biasanya relatif lebih mendalam.

Para pakar menulis, dulu, menyebutkan bahwa tulisan online sebaiknya pendek (di bawah 800 karakter). Patokan itu sekarang mulai luruh. Penelitian SerpIQ membuktikan bahwa tulisan yang menarik dan paling banyak dibagikan justru tulisan yang relatif panjang (longform).

Lalu bagaimana menuliskan artikel dengan gaya bercerita itu?

Kita memulai dari empat komponen yang biasanya ada dalam tulisan:

1. Judul Tulisan

2. Lead/Intro/Teaser

3. Body/Tubuh tulisan

4. Ending/Penutup

 

Judul Tulisan

Dan apakah judul itu? Judul adalah deretan kata yang ditempatkan di bagian paling atas. Judul adalah mahkota sebuah tulisan yang menggambarkan inti terpenting dari cerita atau informasi yang ada di bawahnya.

Judul mempunyai fungsi yang bukan main-main.

  • judul harus mampu menggaet perhatian audiens.
  • setelah menggaet, judul harus mampu menyuruh orang untuk menengok isi tulisan di bawahnya.

Judul seperti halnya topik tulisan, berkait dengan target audiens. Judul tulisan harus relevan. Relevan dalam arti penulis harus tahu apa yang menarik atau penting oleh audiens.

Judul artikel seperti ini: “Diskon 70% untuk Semua Barang di ABCD Mal Hari Ini!” akan menarik perhatian audiens yang mana saja. Kenapa menarik?

Karena ada janji keuntungan. Barang yang dulu mahal di ABCD Mal, sekarang harganya tinggal 30% saja.

Atau judul “Keliling Eropa 2 Minggu dengan Biaya Rp 20 Juta” pasti membuat orang tertarik.  Apalagi kalau diberi embel-embel judul kecil “Sudah Termasuk Tiket Pesawat dan Akomodasi”.

Hal lain yang layak Anda ingat soal judul:

  • Hukum 50/50

Kalau sebuah tulisan dianggap sebagai kesatuan, maka proporsi perhatian harus dibagi 50:50 antara judul dan bagian lain.

  • Hukum 80/20

Perhatian terhadap judul senantiasa ”dibenturkan” kepada audiens. Apakah audiens akan tertarik dengan judul yang kita buat? Judul yang berhasil, asumsinya adalah: kalau bisa membuat 8 dari 10 orang tertarik – cuma 2 orang yang ogah-ogahan.

Ada banyak pendekatan dalam penjudulan. Nanti kita rinci lagi di tulisan terpisah. Tapi yang perlu dicamkan: judul itu inti terpenting tulisan.

 

Lead alias Intro atau Teaser

Nah, bagian ini adalah bagian yang juga krusial dalam menulis. Lead atau intro (juga disebut teaser) merupakan inti terpenting kedua; merupakan mukadimah alias pembukaan yang menjelaskan lebih jauh tentang apa yang sudah diungkapkan dalam judul.

Jika judul adalah mahkota yang bersinar, lead adalah detail dari ornamennya sang Mahkota. Ada relief ukiran, ada permata dan batu mulia.  Jika judul adalah pintu gerbang, lead sering disebut teras yang siap mengantar pengunjung masuk ke ruangan dalam.

Lead sering juga disebut sebagai teaser. Ya, namanya teaser ia memang harus menggoda. 

Fungsinya sendiri sih secara garis besar ada dua:

  • Menggoda pembaca untuk mengikuti cerita
  • Opening yang membuat jalan cerita supaya lancar

Ada belasan varian lead dalam konteks penulisan bertutur. Lagi-lagi sabar dulu. Penjelasannya akan sangat panjang.

 

Body/Tubuh Tulisan

Judul menggaet. Lead menggoda, membenamkan calon audiensa untuk masuk ke dalam cerita yang tersaji.  Seperti apa liku-liku cerita, tugas Anda (penulis) menyusunnya.

Dalam tulisan Menulis Itu Gampang dan Menulis itu Gampang: Pakai Saja Piramida Terbalik kita sudah memperoleh contoh simpel penyusunan ceritanya. Dari contoh itu kita membuat outline, menyusun berdasarkan blok.  Dalam piramida terbalik pun sebenarnya kita menyusun blok itu dengan pendekatan: tempatkan yang terpenting di atas, informasi yang ingin diketahui audiens.

Prinsip blok itu bisa dipakai. Kerangka tulisan perlu dibuat terutama bagi penulis yang belum biasa “menyimpan” outline dalam kepalanya. Nah, bicara soal siasat menyusun tubuh tulisan juga kita dalami di tulisan lain.

 

Ending/Penutup

Tidak ada pesta yang tidak selesai. Tidak ada lomba lari tanpa garis finish. Ah, lebay.

Hahaha! Tenang. Tetapi kira-kira penutup tulisan adalah sebuah tanda, bahwa perjalanan cerita memang harus diakhiri.

Kalau Anda membaca cerita pendek (cerpen), novel, atau film, Anda bisa memperhatikan bagaimana sebuah cerita berakhir. Mungkin happy ending. Bisa juga menggantung bikin penasaran, karena ada judul cerita lain yang menanti.  Atau, bisa jadi, ending seperti tak menyimpulkan apa-apa, sebab Andalah yang bertugas untuk menyimpulkan sendiri.

Bagian demi bagian dari sebuah tulisan, lagi-lagi, memang akan kita lanjutkan di seri tulisan lain.  Tetapi di bagian akhir tulisan ini ada satu hal yang bisa dibagikan: bahwa struktur tulisan pun ternyata bisa setarikan nafas dengan konsep orang me-marketing-kan produk kepada konsumennya.

Rumus Attract, Interest, Desire, Action (AIDA, sebelum akhirnya pada era internet menjadi AISAS) kan mirip-mirip juga.  Judul menarik atensi (perhatian).  Lead menyajikan interest. Body merinci agar ada desire.  Dalam pendekatan AISAS tulisan juga bisa menyediakan judul-judul dalam rangka search, sebelum akhirnya terjadi action dan share.