Pentingnya Sebuah Storytelling

by : Sukrisna Wiharja


Posted on October 13, 2016 16:56 PM
Bagikan melalui :


Apa artinya sebuah merek jika hanya dibiarkan diam begitu saja. Orang yang melihat pun tak tahu apa yang ada dalamnya. Merek harus diceritakan

Cerita bisa bertema macam-macam. Dan aneka cerita yang seakan menjadi DNA produk ini harus terus dipelihara dan dikembangkan. Bukan hanya oleh spesialis yang diberi tugas, tetapi oleh semua lapisan karyawan.

Dua tahun lalu Onepoll, institusi riset di London, membuat penelitian. Permintaan penelitian datang dari Aesop, agensi di negeri yang sama. Yang mau diteliti, lumayan menarik. Dari 100 brand storytelling terpilih, kira-kira brandstory telling milik siapakah yang dianggap paling memikat.

Ada 1.500 responden di Inggris yang digarap. Dari tuturan mereka akhirnya tersebutlah nama Apple. Mereka memiliki brand storytelling paling mengesankan.

Memangnya seperti apa storytelling Apple itu? Ada beberapa poin yang bisa disimpulkan.

Konsep cerita yang dilakukan Apple selalu mengait kepada identitas produknya. Namun yang membuat Apple dipilih banyak orang karena Apple selalu masuk dengan cerita bahwa pihaknya senantiasa menciptakan teknologi atas dasar untuk kepentingan kehidupan masyarakat. Lalu ada satu lagi poin yang selalu ada: Apple selalu menceritakan apa yang ada di balik produk-produk yang mereka luncurkan.

Storytelling juga bisa mendongkrak reputasi produk yang terjun bebas. Seperti yang dilakukan oleh Barclays. Anda mungkin masih ingat saat lembaga keuangan itu tercemar akibat skandal kecurangan Libor.

Anthony Jenkins sebagai boss baru pengganti Bob Diamiond mengambil beberapa tindakan untuk memulihkan nama Barclays. Salah satu cara, ia meluncurkan program LifeSkills.

Lifeskills adalah program untuk memberi gambaran kepada anak-anak muda tentang dunia kerja. Sajiannya dalam bentuk video berdurasi pendek.

Yang dikisahkan adalah tentang dua anak muda yang menjumpai banyak pengalaman baru di tempatnya bekerja. Program ini disiarkan setiap hari selama seminggu disela-sela berita malam.

Seperti layaknya tayangan film, ada alur cerita yang dibangun di LifeSkills. Publik menyukai dan menjadi topik obrolan.

Citra baik dibangun dari cerita. Program LifeSkills ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kembali kepercayaan konsumen. Memang proses pemulihan tak bisa berlangsung secepat membalikkan tangan. Perlu waktu.

Dari cerita LifeSkills Anda juga bisa melakukan hal yang sama dalam membangun brand.  Harus jelas tujuan yang ingin dicapai, cerdik dalam memilih cara dan konsisten.