Storytelling Tidak Cukup? Mainkan Storydoing

by : Sukrisna Wiharja


Posted on October 13, 2016 16:57 PM
Bagikan melalui :


Pada era tsunami informasi dan komunikasi yang supergaduh dan jenuh, semua orang, sepanjang punya akses internet bisa membuat “panggung” sendiri. Saat brand storytelling dirasa kurang kuat membetot perhatian, brand content marketing perlu memikirkan storydoing.

Tayangan sebuah program televisi yang digarap oleh puluhan kru dengan konsep yang didiskusikan berjam-jam bisa kalah jumlah penonton kala bertarung di YouTube. Ya, bisa kalah dengan tayangan video yang dibuat oleh remaja umur belasan tahun. Bahkan pelanggan YouTube mereka melebihi jumlah pembaca majalah ternama.

Ya, semua orang bisa mempunyai panggung dan juga penonton yang tersebar secara global. Bahasa boleh beda, tetapi mereka dari planet yang sama sehingga bisa melakukan komunikasi yang sama pula.

Kebiasaan membuat dan mengunggah video ini sebenarnya bisa dimanfaatkan para marketer untuk pemasaran produk. Libatkan mereka, buatlah storydoing.

Storydoing mulai dilirik orang setelah diperkenalkan oleh Beto Nahmad.  Pembuat iklan asal Argentina itu pernah membuat sebuah karya fenomenal.  

Karya yang tercipta saat ia diberi tugas menggarap content marketing sebuah kompetisi sepakbola yang akan disiarkan di televisi Spanyol.

Alih-alih membuat konten pertandingan sepak bola, Nahmad justru membuat pengumuman kompetisi video selebrasi gol.  Ya, Nahmad jeli melihat kebiasaan anak-anak muda Spanyol. Mereka  memang paling suka membuat gaya selebrasi seusai mencetak gol.

Nahmad memang tak salah mengamati. Dalam waktu singkat, ia menerima ribuan video selebrasi yang rata-rata dibuat lewat smartphone.

Tahap selanjutnya, giliran para bintang sepakbola dilibatkan. Mereka diberi tugas untuk memilih gaya selebrasi hasil kiriman. Gaya selebrasi itu nantinya akan mereka peragakan sesaat sesudah memasukkan bola ke gawang.

Alhasil menonton pertandingan sepakbola menjadi kian seru. Penonton bukan hanya menanti detik-detik terjadinya gol, tetapi juga menunggu aksi selebrasi yang mana yang akan dilakukan para pencetak gol.

Kampanye digital yang sungguh menarik. Dan ide itu pun dinilai sebagian besar praktisi sangat sukses.

Bagaimana proses kreatif yang dilakukan Nahmad? Sebenarnya tidak istimewa. Menurut Nahmad, pertama-tama yang ia lakukan jika ingin membuat suatu content marketing adalah memikirkan sasaran audiensnya. Apa kebutuhan mereka, hal apa yang saja yang dianggap menarik.

Nahmad menganalogikan hubungan antara produk dan konsumen itu semestinya berlangsung seperti sebuah proses memilih teman. Teman yang baik adalah teman yang tahu kapan bisa diajak tertawa, kapan bisa memberikan pelukan dan empati dan kapan bersikap sebagai pendengar yang baik. Bukan teman yang setiap saat membicarakan diriya.

Setelah bangunan persahabatan ini terasa kuat, maka komunikasi akan lebih mudah dilakukan. Itu sebabnya Nahmad menyarankan agar melompat lebih jauh, dari storytelling menjadi storydoing. Anda setuju?