Storytelling Yang Efektif Diaplikasikan Di Proses Pemasaran

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on July 21, 2017 09:00 AM
Bagikan melalui :


Ini adalah pertanyaan penting untuk marketer. Maklum, semua marketer memiliki target untuk menggerakkan hati audiens untuk mengenal dan mencoba produknya.

Efektivitas sebuah proses komunikasi sangatlah  ditentukan dari caranya. Saat kita menyampaikan pesan dengan tepat, pemahaman audiens bisa jadi lebih cepat. Bila kita ingin audiens merespon apa yang kita komunikasikan, kita harus memilih cara yang tepat untuk mengomunikasikan pesan.

Metode yang sering dilakukan adalah melalui storytelling alias mendongeng. Ya, metode ini sebenarnya bukan hal baru. Bahkan, kita sudah mendengar hal ini sejak dini. Dalam banyak format. Mulai dari mendengarkan dongeng di sekolah, cerita drama di radio, menonton film di bioskop, dan banyak hal lainnya.

Berani bertaruh, saat kita mendengarkan cerita, pasti kita akan lebih mudah mengingat pesan yang disampaikan. Hasilnya, banyak cerita menarik yang masih kita ingat sampai hari ini.

Ingat ya, menarik. Yang bisa membuat kita fokus pada apa yang disampaikan. Dan menyimpan informasinya di dalam pusat memori kita.

Inilah kekuatan dari storytelling. Saat kita menyampaikannya dengan tepat, dan kebetulan informasinya relevan, kita jadi akan lebih mudah mencerna info yang disampaikan.  Akibatnya, otak akan memilah informasi itu untuk masuk dalam folder penting dan perlu disimpan.

Setelah terbukti di kehidupan sehari-hari, wajar jika metode ini diadaptasi di dunia bisnis. Dan dimulailah proses bercerita di dunia pemasaran. Semuanya berlomba membuat cerita. Dan menceritakannya kepada khalayak. Kenapa?

Diyakini bahwa cerita yang baik akan menyebar dengan baik. Bila cerita tersebut diingat dengan baik, pendengar akan kembali menceritakannya kepada orang lain. Cerita tersebut akan viral, dan diketahui oleh banyak calon konsumen. Bukan itu saja, cerita yang menyebar cepat bisa juga menarik calon investor untuk melakukan investasi. Mereka jadi lebih yakin, kita adalah partner yang tepat untuk mengembangkan usaha bersama-sama.

TRANSPORTATION

Oke, itu tadi adalah impact dari sebuah cerita menarik dan baik. Tapi, pernahkan Anda bertanya, cerita seperti apa yang punya kekuatan untuk menggerakkan orang?

Melanie Green dan Timothy Brock, pakar psikologi dari Ohio State University menemukan dalam penelitian mereka, tidak semua cerita bisa membuat orang tergerak. Setiap orang harus mempercayai dan menikmati semua logika yang disampaikan dalam sebuah cerita, sehingga mereka bisa “termakan” oleh cerita tersebut.

Saat logika mereka sudah “tertawan” dalam sebuah cerita, barulah cerita tersebut punya kekuatan untuk membujuk dan memengaruhi keyakinan seseorang. Fenomena ini, dalam penelitian mereka disebut sebagai transportation.

Ya, mereka mengumpamakan sebuah cerita sebagai sarana transportasi. Yang membuat seseorang “berpindah” dari dunia yang ditinggalinya, ke dalam dongeng yang dibaca atau ditontonnya. Cerita yang sangat bagus, punya kemampuan untuk ‘memindahkan’ audiens yang digambarkan dalam cerita tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi ciri seseorang sudah “terbawa” dalam sebuah cerita. Yang pertama, keterlibatan emosional dengan cerita. Fenomena yang sangat sering terjadi, saat kita tengah menikmati sebuah film. Di mana kita seakan-akan, berpihak pada satu tokoh atau karakter di film tersebut. Dan mulai memandang masalah, dari kacamata tokoh itu.

Yang kedua, audiens akan memfokuskan perhatiannya pada cerita. Sehingga, mereka melupakan atau mengindahkan apa yang terjadi di dunia nyata. Biasanya sih, orang yang sudah focus jadi sulit dipanggil saat tengah menonton film yang disukai.

Selanjutnya, muncul rasa penasaran akan kelanjutan cerita. Yang membuat seseorang jadi menunggu-nunggu, apa yang akan terjadi pada tokoh idolanya di kelanjutan cerita yang disukai.

Hal  ini banyak terjadi hari ini. Lihat aja di media sosial, ada berapa orang yang sibuk memposting hal-hal tentang serial Game of Thrones yang memasuki musim ke 7, pertengahan Juli 2017 silam. Semuanya seakan tidak sabar, menunggu apa yang akan terjadi pada Jon Snow dan Daenerys Targaryen, yang jadi karakter utama di serial itu.

 

STORYTELLER

Singkat kata, untuk membuat orang “berpindah”, memang dibutuhkan storyteller yang luar biasa. Yang bisa memindahkan orang yang disasar ke sebuah dunia penuh pesan dari marketer. Yang membuat orang-orang tergerak, untuk mengonsumsi produk yang diceritakan.

Apakah sulit?

Bisa iya, bisa tidak. Gaya bercerita memang sulit dikejar. Namun, dengan melakukan targeting audiens dengan cara membuat persona dan mendalami insight-nya, kita bisa tahu, apa saja yang penting dan relevan dengan target market kita. Dari situ, barulah kita kembangkan cerita yang bias menyentuh hati mereka.

Pemilihan creator juga perlu diperhatikan. Karena tidak semua creator bisa bercerita dengan baik ke semua kalangan. Kadang-kadang, creator tertentu hanya bisa works buat sebagian kalangan. So, mencari partner yang tepat untuk mengkreasi cerita jadi hal penting.

Dan untuk mengetahui keberhasilan storytelling kita, pengukuran jadi hal yang wajib dilakukan. Membuat story yang menarik tidak ujug-ujug bisa terjadi. Bahkan, penulis andal pun harus menulis beberapa buku, sebelum meledak.

So, bila kita ingin bercerita dengan baik, ada baiknya kita selalu melihat apa yang dihasilkan oleh setiap cerita yang sudah kita hasilkan. Dan mempelajari kunci suksesnya.

Tunggu apalagi? Mari bercerita. Because, stories moved people.