Ah….Freddie Hidup Kembali!

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on November 12, 2018 16:00 PM
Bagikan melalui :


Menghidupkan kembali sosok Freddie Mercury yang fenomenal sungguh tak bisa hanya mengandalkan kekuatan akting Rami Malek (Aktor satu ini harus diakui keren punya, termasuk ketika menjadi prajurit marinir Amerika di film The Pacific – Serial HBO). Namun juga mengoptimalkan segala potensi, termasuk media sosial yang kemudian memegang peran penting atas kehadiran film Bohemian Rhapsody.

Kekuatan musik Queen yang amat lekat dan kuat oleh karakter vokal Freddie dan gerungan gitar Brian May ambil peran dalam segi menarik daya pikat. Bahkan, theme song distributor film, 21th Centry FOX yang akrab di telinga itu pun diaransemen menggunakan bunyi gitar Brian May saat membuka film.

Freddie adalah Queen, Queen adalah Freddie. Harus diakui Queen tanpa Freddie hanya terdiam. Bahkan era selama sang vokalis nyaris berkarir solo, Brian May, Roger Tylor dan John Deacon tak pula melahirkan album. Termasuk sekarang, Queen tetap ada, namun –tak seperti band kawak lainnya- tanpa Freddie, Queen seperti tinggal nama.

Sekadar catatan, terakhir album Queen dirilis pada 1995. Bohemian Rhapsody muncul di album ke empat (A Night at the Opera), ketika dirilis lewat platform kaset muncul di side B.

Hype film Bohemian Rhapsody sudah digulirkan melalui Facebook dan Instagram beberapa bulan silam. Di Instagram, sosok sentral film disokong sebagai daya tarik.

Pengelola media sosial tak terjebak pada nostalgia yang biasanya dilakukan dengan mem-posting file-file lawas milik Queen. Hampir seluruhnya merupakan materi fresh yang diambil dari image maupun potongan film. Namun, tak sembarang pose dan thriller yang di-update sebagai konten. Melainkan materi-materi pilihan tetapi merupakan simbol-simbol sosok Freddie maupun citra Queen sebagai band era ’80-an.

Dengan konten tersebut, misi untuk menyampaikan kampanye film tetap tersampaikan kepada calon penonton dari segala usia. Untuk mereka yang meremaja pada era Queen seperti dibawa ke alam nostalgia. Bagi mereka yang generasi baru dan milenial, diajak untuk mengenali juga memahami sang vokalis yang pose tubuhnya meliuk-liuk itu.

Hanya lagu-lagu top hits dan evergreen saja yang ditampilkan di Instagram. Itu pun hanya potongan seperti bagian reff. Kembali, tujuannya adalah sebagai reminder (bagi remaja ’80-an) dan pengenalan set list movie (bagi remaja kekinian).

Bohemian Rhapsody memiliki keuntungan dalam hal materi media sosial. Sebagai film dengan konten musik (salah satunya), membuat up date konten media sosial pun bervariasi. Selain image, video, juga lagu.

Dengan lagu –apalagi lagu-lagu Queen punya lirik berkarakter- membuat audience lalu menimpali. Apa lagi kalau bukan men-share potongan lirik. Misalnya ketika mem-posting judul tembang I Want to Break Free, audience membalas atau tepatnya meneruskan dengan potongan lirik “So baby can’t you see, I’ve got to break free…”

Lewat tembang ini pula, melahirkan kreativitas kolektif dari beberapa orang karyawan penanganan bagasi bandara Heathrow London melakukan aksi dance. Mereka ingin mengingatkan bahwa Freddie pernah bekerja di bandara sebelum bergabung dengan Queen.

Maka, konten yang dibuat oleh pengelola media sosial tak hanya berhenti pada soal engagement semata tetapi juga mendorong kreatif lainnya. Pendek kata, keberhasilan pemasaran konten Bohemian Rhapsody telah melebar ke partisipasi audience. Terlepas bahwa obyeknya adalah legendaris.

Reaksi audience bermunculan. Dari sisi musikalitas dan fans, media sosial Bohemian Rhapsody seperti menjadi tempat berkumpulnya pecinta Queen (baik kelas die hard sampai sekadar suka), hingga soal garapan filmnya.

Seorang teman bilang, ia mengaku menitikkan air mata. Bukan lantaran menyaksikan kontroversi Freddie yang mengaku bahwa keluarganya ya Queen, namun oleh karena kisah asmara Mary Austin yang dramatis menemui kenyataan pahit cinta dan sang cintanya, Freddie Mercury.

Salah seorang audience Facebook Bohemian Rhapsody berkomentar, film ini benar-benar seperti sebuah roallcoaster yang membawa emosi. Pemilik akun bernama Krista Smart berceloteh, bahwa anaknya yang berusia 14 tahun bersama temannya menitikkan air mata melihat aksi peran para bintang film itu.

Ketika Google bikin polling, sebanyak 98 persen partisipan mengaku menyukai film ini. Situs film blockbuster ternama, IMDb memberi rating 8,4 alias tingginya di atas rata-rata film box office. Jarang ada yang menyentuh angka di atas 8. Banyak yang berharap Rami Malek meraih Oscar tahun depan.

Film berbiaya 55 juta dolar itu sampai 12 November telah meraih pendapatan 191,5 juta dolar. Seiring itu pula Bohemian Rhapsody meraup audience sebanyak 258 ribu follower di Instagram dan 333 ribu lebih likes di Facebook. Jumlah yang cukup besar, untuk sebuah akun film yang bakal surut seiring dengan pergantian film lain di layar bioskop.

Bohemian Rhapsody selain menghidupkan kembali sang rockstar, juga memberi pelajaran optimalkan kontennya sebagai bahan pemasaran.

We will rock you! (*)