Asian Games 2018, Energy of Content Marketing

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on September 04, 2018 10:00 AM
Bagikan melalui :


Media Tiongkok, South China Morning Post, belum pula upacara penutupan Asian Games 2018 dimulai, sudah menyatakan kekaguman atas konsep kreatif pesta olahraga terakbar se-benua Asia ini. Tulis media ini, Tokyo (Olimpiade 2020) dan Hangzhou (Asian Games 2022) harus melakukan persiapan selama empat tahun untuk menghasilkan konsep kreatif dan artistik yang khas negaranya agar sekelas Asian Games 2018 di Indonesia.

Di akhir artikel, media ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada Jakarta, dan mengakui Indonesia tak diragukan bisa jadi penggelar Olimpiade 2032.

Asian Games dikemas tak hanya menghadirkan standar pertandingan yang disyaratkan oleh komite olimpiade dunia dan Asia. Namun juga diolah dengan kreativitas tingkat tinggi dan serba modern.

Kemodernan itu tak hanya tampak pada teknologi yang diaplikasikan namun juga mampu menghadirkan kultur dan alam nusantara sebagai sebuah ciri khas yang layak dipertontonkan. Kreativitas itu meluap sejak Jokowi mau saja diseting bak Ethan Hunt, jagoan Mission: Impossible menunggang motor plus aksi standing satu ban depan.

Asian Games 2018 nyaris tidak memanfaatkan banyak peran media konvensional. Kecuali bahwa media melakukan peran pelaporan jurnalistik maupun broadcaster resmi (dalam hal ini dipegang oleh Emtek Group).

Sebagai sebuah pergelaran yang “hanya” berlangsung 16 hari, Inasgoc mengandalkan sepenuhnya pada kekuatan situs resmi dan empat platform media sosial, antara lain Facebook, Twitter, Instagram dan YouTube. Pun sebuah aplikasi mobile.

Tujuh bulan sebelum Opening Ceremony, situs beralamat di www.asiangames2018.id ini dikunjungi rata-rata oleh 430 ribu orang perhari. Sempat mengalami penurunan pada periode Maret hingga April. Ini lantaran gaungnya belum terasa benar. Sementara persoalan Asian Games kala itu masih berputar-putar pada soal fasilitas yang belum siap.


Periode Juni ke Juli mulai terlihat tingkat visit yang melonjak bahkan lebih dari tiga kali lipat. Visitor yang semula sekitar 380 ribu di Juli mencapai 1,4 juta pengunjung.

Sumber traffic itu berasal dari pencarian melalui mesin pencari (hampir 60 persen), diikuti akses langsung mencapai 18 persen. Sementara media sosial baru menyumbang hampir 4 persen. Persentase ini didapatkan dari YouTube 40 persen, Facebook 30 persen, Twitter 15,5 persen, sedangkan Instagram memasok 7 persen.

Website Asian Games 2018 boleh disebut bagus. Lihat saja rata-rata kunjungan orang mencapai 4 menit 23 detik, sedangkan jumlah halaman yang dibuka menembus 2 halaman lebih. Orang juga cukup betah, terbukti bounch rate-nya berada di angka 60 persen.

Data lain menunjukkan, betapa antusias pengunjung untuk menghadiri perhelatan ini cukup tinggi. Fakta memperlihatkan situs penjualan tiket resmi kiostix.com lalu diakses oleh 60 persen lebih visitor. Sedangkan media sosial yang diakses usai berselancar di situs adalah Instagram.

Energi warga untuk mengikuti berbagai informasi yang dihadirkan oleh Inasgoc tampak terlihat pula di media sosial. Sebagai contoh kanal YouTube resmi dengan puluhan video telah disaksikan setidaknya 92 juta kali, dengan jumlah pelanggan sebanyak 558 ribu lebih.

Aku Twitter resmi dibuka sejak November 2016 memiliki follower sebesar 136 ribuan, dengan jumlah twit 3.800-an. Sementara konten video dan foto yang di-upload sebanyak 2.099 buah. Kendati Twitter tak se-hype dulu, namun ratusan orang masih mengikuti setiap up date yang ditampilkan.

Kanal Facebook Asian Games 2018 disukai oleh 282 ribu lebih. Setiap postingan dilihat oleh 400 hingga 700 orang. Sedangkan Instagram Asian Games adalah platform dengan jumlah follower terbanyak, hampir tembus 900 ribu akun. Total sebanyak 1.175 postingan menghias akun Instagram Asian Games sejak persiapan hingga penutupan.

Tak puas hanya membuka akun untuk umum, Inasgoc juga membuat akun lain yaitu kampung atlet. Di sini, lebih ditujukan bagi para atlet yang tercatat sebanyak 15.000-an orang. Meski tak sebanyak follower akun Asian Games 2018 (hanya sebanyak 6.700-an follower) namun umum bisa melihat bagaimana keseruan hari-hari di Athlete Village.

Energi pemasaran Asian Games tidak hanya datang dari Inasgoc. Namun juga muncul dari berbagai pihak. Sebut saja lembaga pemerintah, walaupun menjadi kewajiban tetapi beberapa melakukan inisiasi dengan konten apik. Masing-masing membuat kreativitas berbau olahraga sembari menyebutkan dukungan kepada acara ini, termasuk memberi semangat buat atlet.

Perusahaan BUMN maupun swasta entah sebagai sponsor maupun tidak memanfaatkan momentum dua minggu ini lewat video maupun image. PDSI anak perusahaan Pertamina misalnya, ketika mengunggah video korporat bertema Asian Games langsung memperoleh view sebanyak 223 kali. Jumlah view ini tercatat paling banyak dibandingkan postingan lainnya.

Di jagad media sosial yang tak kenal batas bahkan lebih seru lagi. Serunya upacara pembukaan, emas pertama tim Indonesia, aksi Jonatan Christie, emas tim sepak takraw putra sampai upacara penutupan menjadi viral ke mana-mana. Belum lagi pose para pengunjung di kawasan Asian Festival yang terus membanjir dengan tagar AsianGames atau Asian Games2018.

Jika Anda cari frase kata kunci Jokowi Prabowo di Google (sampai 3 September) masih muncul kisah pelukan damai itu.

Asian Games sukses melakukan pemasaran kontennya. Ia tak hanya bicara tentang olahraga dan prestasi. Namun juga rentetan peristiwa yang terjadi di dalamnya. Setiap orang menjadi bagian dari proses pemasaran Asian Games. Bahkan yang negatif pun kemudian “dilawan” dengan penyadaran oleh netizen lain.

Proses ini sekaligus memasarkan Asian Games ke pentas dunia. Energi Indonesia pun meluap-luap di media sosial. Siapa kita? Indonesia! (*)