B2B Content Marketing: Konten untuk

by : Eddy Suhardy


Posted on November 30, 2018 17:00 PM
Bagikan melalui :


Menjalankan B2B Content Marketing bisa jenuh juga. Apalagi kalau produk yang dipasarkan dirasa-rasa kok tidak menarik. Membosankan? Ah, selalu ada cara mengatasinya.

Yang kita perlu lakukan agar keluar dari kejenuhan dan perasaan “ini bisnis yang membosankan” sebenarnya sederhana.  Duduk tenang di depan meja, lalu berpikir. Enggak perlu lama. Paling satu jam.

Benarkah brand dari produk yang kita kelola tidak menarik? Hmmm,  jangan pesimistis.

Taruh kata Anda mengelola band A, yang produknya adalah sisir. Iya, sisir. 

Sisir, bukan produk canggih. Brand-nya pasti tidak “seheboh”  Apple atau Samsung.  

“Coba. Mau bikin konten untuk B2B seperti apa untuk sisir?” tanya Anda.

Jangan pesimistis. Coba kita urai.

 

Fokus kepada Audiens yang Membutuhkan

Coba ingat-ingat, apakah Anda punya catatan yang memuat daftar keluhan dari rekanan bisnis Anda? Kalau kasusnya adalah produk sisir tadi, coba lihat daftar keluhan atau masukan dari para para hairdresser atau pemangkas rambut?  Atau bahkan dari masyarakat?

Tidak ada keluhan soal sisir? Coba melipir sedikit.

Sisir berhubungan dengan rambut. Jenis rambut beda-beda. Dari sekian banyak jenis pasti ada macam-macam persoalan. 

Ini kita baru bicara soal jenisnya, ya. Apa lagi?

Bisa banyak.  Misalnya menyangkut soal manajemen barbershop, masalah kerontokan, ketombe, potongan rambut, perawatan sampai pengecatan.

Singkat cerita, dari setiap persoalan yang ada, akan muncul banyak pertanyaan.  Setiap pemangkas rambut atau hairdresser pasti punya banyak kisah yang terkait dengan keluhan pelanggan dan dirinya sendiri.

Misal:

  • Belum lama ini saya membuka barbershop. Tetapi belum tahu bagaimana cara mengembangkan bisnis ini?
  • Salon saya laris.  Saya ingin buka cabang baru. Hal apa saja yang sebaiknya harus saya persiapkan?
  • Saya baru mengecat rambut. Biayanya agak mahal. Bagaimana agar warna rambut baru bisa bertahan lama?

Dua pertanyaan pertama menyangkut soal manajerial dan pengembangan bisnis. Pertanyaan ketiga adalah contoh dari keluhan masyarakat umum. Tentu masih banyak lagi.

Namun, intinya, kalau kita sudah punya daftar keluhan, maka sebenarnya kita sudah memiliki bahan untuk kita ceritakan. Kita sudah punya banyak topik untuk konten. Bukan konten biasa, tetapi konten yang dapat memberi solusi.

Solusi bagi siapa? Ya, bagi audiens yang membutuhkan.

Nah, begitulah maksud dari subjudul di atas.

Anda memang tidak memiliki audiens seluas Apple atau Samsung, tetapi Anda memiliki audiens spesifik. Solusi yang Anda berikan lewat konten di blog, e-newsletter, atau akun media sosial memberikan manfaat. Brand A, brand produk sisir Anda ikut terbawa, teringat, dan bahkan menumbuhkan keyakinan.

Kalau Anda terbiasa bermain di ranah media digital, Anda bisa juga melakukan pengecekan melalui Google Keyword Planner.  Kita bisa menelusuri kira-kira kata kunci apa yang tepat berkenaan dengan persoalan rambut dan sisir.  Anda akan mendapatkan gambaran dan menyusun keyword plan.

Proses merenung sejenak seperti dicontohkan di atas dapat digunakan untuk bisnis apa pun. Temukan dan siarkan tentang berbagai aspek yang menyenangkan, unik atau menginspirasi dari bisnis Anda

 

Luaskan Konten dengan Memperhatikan Motif

Kalau konten yang Anda buat dan sebarkan sudah berhasil menarik perhatian audiens tertentu, mereka dengan sukarela akan memviralkan. Konten yang tadinya ada di wilayah “owned media”, bisa jadi melebar ke “earn media”.

Data dari The New York Times Customer Insight Group menunjukkan bahwa pada umumnya audiens senang membagikan konten karena memiliki motif komunikasi:

  • Ingin membantu atau menghibur teman dengan memberi informasi (49%)
  • Ingin memberikan gambaran eksistensi dirinya di hadapan teman, (68%)
  • Ingin mengembangkan dan mempererat hubungan (78%)
  • Ingin terlibat dengan persoalan-persoalan yang tengah mengemuka (69%)
  • Ingin memberikan dukungan atas persoalan yang mereka pedulikan (84%)

Anda bisa memilih pendekatan yang digunakan dari lima motivasi di atas. Konten bisa disesuaikan. Apakah tekstual atau visual. Dalam bentuk studi kasus atau hasil penelitian.


Tools sebagai Konten

Bentuk konten sebenarnya bisa saja disajikan dalam bentuk tekstual atau visual.  Tools yang bersifat simulatif pun termasuk konten juga.

Salah satu cara terbaik untuk memasarkan bisnis "membosankan" Anda menggunakan konten adalah dengan mengembangkan konten dalam bentuk tools.

Kalau brand Anda bergerak di bidang bahan bangunan, Anda bisa menyediakan konten dalam bentuk simulator. Misalnya, menyediakan kalkulator yang bisa memberikan gambaran tentang berapa banyak bahan bangunan yang digunakan dalam membangun sebuah rumah dengan ukuran tertentu. 

Kalkulasi penggunaan bahan juga dihubungan dengan harga. Dari sana akhirnya akan diperoleh kisaran biaya saat membangun sebuah bangunan.

Para kontraktor, developer, bahkan bisa jadi toko bahan bangunan tentu senang dengan kalkulator ini.  Pun demikian dengan audiens umum yang memang berniat membangun rumah.

Kalkulator serupa, bisa juga diterapkan untuk perusahaan asuransi, perbankan. Atau kalau peruasahaan Anda adalah produsen sisir, bisa saja simulatornya adalah simulator yang memberikan gambaran potongan rambut yang cocok untuk orang dengan bentuk wajah tertentu.

Tools tersebut bisa Anda “pasang” di web brand Anda.  Jangan lupa, Anda tetap perlu “memasarkan” konten ini ke khalayak.

Jika memang betul berguna, niscaya, akan menarik lebih banyak perhatian orang.  Kalau banyak yang tertarik, itu sama artinya dengan menambah potensi/ lead bagi penjualan produk.

Nah, begitulah cerita kita hari ini. Ingat, tidak ada bisnis yang membosankan seperti yang Anda kira. Ada banyak orang di luar sana yang ingin belajar lebih banyak tentang Anda. Melalui konten hebat, Anda dapat menjangkau mereka.

Jadi, kalau Anda cuma jenuh, itu wajar. Tapi jangan merasa bosan.