Belajar Dari La La Land: Lebih Besar Telling Daripada Story

by : Dani Satrio


Posted on February 24, 2017 11:00 AM
Bagikan melalui :


Semua cerita itu baik. Yang menjadikannya bagus atau sebaliknya adalah bagaimana cara kita menyampaikannya.

Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan ke kantor, saya mendengar sebuah wawancara radio dengan seorang sutradara yang filmnya saat itu baru saja tembus dua juta penonton. Padahal, menurut penyiar sekaligus pewawancara pagi itu, film ini adalah karya perdana Sang Sutradara. Jadi, tambahnya lagi dalam pengantar sebelum wawancara dimulai, angka dua juta penonton itu adalah sebuah prestasi yang sangat luar biasa.

Banyak membicarakan tentang proses pembuatan film itu (ya iyalah. Masak mau bicara tentang kenaikan harga cabai?), salah satu jawaban yang paling saya ingat dari Sang Sutradara adalah, “Gue sendiri nggak menyangka jadinya akan seperti ini. Soalnya, premisnya gue bangun berdasarkan pengalaman pribadi dan lingkungan. Sementara storyline dan script-nya sendiri dibuat sambil jalan, tanpa ada bayangan sama sekali bahwa ceritanya bisa menyentuh banyak kalangan.”

Mendengar itu, ada beberapa hal yang kemudian terlintas di benak saya. Yang pertama tentu saja kekaguman. Betapa sebuah ide berlatar personal bisa “dibeli” oleh sekurangnya dua juta orang. Itu kan artinya, paling tidak ada dua juta orang yang pernah mengalami, atau setidaknya merasa punya kedekatan dengan topik atau tema yang berkembang dari ide tersebut. Lepas dari suka atau tidaknya mereka setelah menonton, dua juta orang tersebut sudah merelakan diri merogoh kantong mereka   

Yang berikutnya muncul di benak adalah betapa hebatnya Sang Sutradara yang bisa mengemas ide tersebut menjadi produk yang utuh dan dinikmati hingga dua juta orang tadi. Padahal, seperti penuturannya di atas, bagian-bagian bahkan bagan ceritanya dikerjakan “sambil jalan” alias berbarengan dengan berlangsungnya proses produksi. Sepengetahuan saya, hal itu sama sekali bukanlah hal yang mudah: membangun cerita lalu mewujudkannya dalam kemasan visual lengkap dengan dialog, serta merangkainya hingga dapat dinikmati – sekali lagi – hingga dua juta orang.

Saya betul-betul kagum.

 

***

 

Selang beberapa lama setelah mendengar wawancara itu, saya membaca beberapa artikel behind-the-scene tentang La La Land. Selain lantaran heboh saat tayang di layar bioskop lokal , film musikal karya Damien Chazelle ini digadang-gadang menjadi primadona di berbagai ajang penghargaan bergengsi, mulai Sundance, Golden Globe, BAFTA, hingga Oscar. Seperti halnya sutradara yang saya ceritakan di atas, Damien ini juga terbilang “anak baru” di kancah perfilman arus utama (baca: Hollywood).

Source: IMDB (Photo by Dale Robinette)

Sama-sama sukses – biarpun beda skala – kedua anak baru ini punya metode yang berbeda dalam membesut film. Damien adalah tipe pencerita yang lebih “sabar” dalam menuangkan, mengembangkan serta mengemas idenya. Naskah dasar La La Land, konon, sudah ada sebelum Damien menyutradarai Whiplash. Persisnya di 2010.  Seperti kita tahu, Whiplash yang dirilis oleh studio independen pada 2014 inilah yang menghadiahinya berbagai nominasi dan penghargaan di ajang-ajang film internasional sekaligus membuat nama Damien masuk ke dalam hot list sutradara incaran studio-studio besar.

Toh, dengan statusnya saat itu, Damien tak lantas “aji mumpung”. Ketimbang langsung lanjut memroduksi La La Land dengan studio mana saja yang saat itu berlomba memberikannya penawaran, lelaki kelahiran Providence, negara bagian Rhode Island, Amerika Serikat, 32 tahun yang lalu ini, memilih untuk lebih dulu menyimpan dan terus mengembangkan naskah film musikal ini.

Saat itu lulusan Jurusan Studi Visual dan Lingkungan Universitas Harvard ini merasa belum ada penawaran yang bisa benar-benar mewujudkan visinya. Selain itu, dia juga masih membutuhkan waktu untuk merangkai elemen-elemen lain yang tak kalah penting untuk membangun sebuah film yang utuh seperti – atau paling tidak, mendekati – apa yang dibayangkannya selama ini.

Salah satu dari elemen itu misalnya adalah, musik. Sejak mula, Damien membayangkan bahwa filmnya ini adalah semacam tribute sekaligus menjadi tonggak resureksi film-film musikal yang sempat ikut melambungkan kejayaan Hollywood di era ’30-’50-an. Dia berimajinasi bahwa musik menjadi elemen yang sangat penting dalam mengantarkan cerita serta membangun mood audiens. Sehingga pria berambut ikal ini tak mau main-main di sektor ini. Terkait musik, di masa awal pengembangan naskah, Damien pernah diiming-imingi modal sebesar 1 juta dollar oleh sebuah studio. Syaratnya, dia harus mau mengganti karakter utamanya dari pemusik jazz menjadi seorang rocker. Tentu saja tawaran itu ditolak mentah-mentah.  

Bersama Justin Hurwitz, partner kreatif yang juga temannya semasa kuliah, Damien merangkai sendiri lagu-lagu bernuansa big band, jazz dan swing untuk La La Land. Dalam sebuah wawancara, dia bercerita bahwa saking pentingnya unsur musik di film ini, alur cerita dan dialog yang ada di naskah bisa saja berubah seiring dengan terciptanya lagu baru yang diusulkan Justin.

“Prosesnya seperti ping pong. Kadang dia (Justin) yang terinspirasi dari adegan yang saya buat, tak jarang justru saya yang terinspirasi untuk mengubah beberapa bagian setelah menerima materi lagu yang baru saja dia buat. It’s very exciting!” bilangnya.

Elemen lain yang tak kalah penting adalah lokasi. Untuk soal ini, Damien teguh berpegang pada ide awalnya untuk menghadirkan sisi romantis Los Angeles. Sejak awal dia ingin keluar dari klise mengenai kota-kota yang lebih “pas” untuk dijadikan lokasi film romantis, seperti Paris, New York atau San Fransisco. Tentu saja, hal itu tak mudah. Bersama tim produksinya, Damien harus rela menjelajah dan menelaah bagian demi bagian dari kota yang memang lebih sering dijadikan setting film laga, komedi atau malah bencana itu. Itupun belum cukup. Beberapa set yang terpilih, masih harus dipermak lagi untuk lebih mewujudkan imaji Damien. 

 

Source: IMDB (Photo by Dale Robinette)

 

Masih ada sejumlah elemen kunci lain yang dengan sabar dirangkai Damien perlahan-lahan dalam membangun cerita yang ingin disampaikannya via La La Land. Baik secara teknikal seperti penggunaan kamera Cinemascope yang legendaris itu, maupun substansial, seperti pemilihan aktor dan aktris pemeran utama maupun pembantu.

Tak kurang dari 6 tahun lamanya, Damien merangkai cerita itu hingga akhirnya mewujud sebagai sebuah film utuh. Dan seperti sudah kita tahu, semua jerih payah dan persistensi itu terbayar kontan, bahkan sejak saat pertama kali ditayangkan sebagai pembuka Venice Film Festival 2016. La La Land langsung menjadi buah bibir. Tak sedikit pengamat dan kritikus yang langsung memujinya setinggi langit dan menjagokannya buat jadi jawara di festival-festival film bergengsi lain. Hingga sekarang, film ber-budget 30 juta dollar ini sudah berhasil mengantongi 340 juta dollar di seluruh dunia dan menjadi nomine di 14 kategori ajang Oscar 2017.

 

***

 

Dari kedua kisah sukses itu, saya jadi makin punya gambaran bahwa pada akhirnya cerita yang baik tak bisa berdiri sendiri. Terlebih ketika cerita itu ingin disampaikan pada khalayak ramai. Di tahap yang disebut terakhir ini, unsur penyampaian alias how to tell-nya bisa jadi akan lebih dominan dan menentukan apakah cerita yang tadinya sudah baik itu akan menjadi bagus, tetap sekedar baik, atau justru masuk kategori “kok gini aja?”.

Unsur itu pula yang dominan dalam membangun ekspektasi terhadap hasil yang ingin kita raih. Dalam sebuah artikel, terungkap bahwa budget awal Damien sebenarnya tak sampai 30 juta dollar. Adalah Patrick Wachsberger, produser Lionsgate yang mendorong Damien sekaligus melobi studio untuk menaikkan budget hingga sebesar itu. Alasannya adalah film musikal yang bagus sesuai ide yang dibayangkan oleh Damien, tak akan bisa dibuat dengan budget sebesar yang diajukan sebelumnya.  

Ya, lepas dari metode yang dipilih, pada akhirnya storytelling adalah sebuah kemampuan membangun dan merangkai elemen-elemen serta saluran-saluran yang tepat serta efektif untuk mendukung cerita yang akan disampaikan pada audiens. Sehingga cerita yang tadinya sudah baik itu bisa naik derajat menjadi bagus dan bukan sebaliknya. Serta tentu saja, impact yang diraih bisa sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh kita, Sang Pencerita.