Bermain Content Marketing Ala Deadpool

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on June 07, 2018 14:00 PM
Bagikan melalui :


Selain berbahaya di medan perang, superhero berkostum merah hitam ini juga ahli bermain content marketing.

Deadpool adalah seorang marketer andal!

Apa yang ada padanya, bukan hanya pantas membuat karakter yang diperankan oleh Ryan Reynolds ini digandrungi fans komik, maupun film. Semua kualitas yang dimilikinya, seharusnya mendapatkan pujian dari marketers di seluruh penjuru bumi.

Nggak percaya? Mari kita bedah sebabnya!  

Sebagai seorang marketer, kita seharusnya menjadi unik saat menampilkan ide-ide content. Sayangnya, banyak dari kita yang masih malu-malu. Memilih bermain aman, menampilkan ide yang kurang lebih mirip dengan tetangga sebelah, dibanding muncul dengan ide brilian yang jauh berbeda. Hal ini membuat kita, content marketer, cenderung tidak mengeluarkan potensi asli yang kita miliki.

Namun, Deadpool tidak mau bermain aman! Superhero yang diciptakan oleh Fabian Nicieza dan Rob Liefeld ini memilih untuk tidak ikut arus. Saat superhero lain berkelakuan baik penuh sopan santun, cenderung menghindari kekerasan dan membunuh lawan-lawannya, Deadpool justru kebalikannya. Mulutnya yang “kotor”, kebiasaannya membunuh musuh, dan beraksi dengan kekerasan maksimum membuatnya menjadi sosok antihero.

Alih-alih dicerca, Deadpool malah mendapatkan sambutan yang menyenangkan. Bahkan, bisa bertengger di jajaran Box Office. Mau tau sebabnya?

Mudah saja! Deadpool stand out karena cuek. Dan kecuekannya itu menjadi gimmick marketing yang luar biasa. Yang digunakan dengan sangat tepat oleh tim marketing filmnya.

Dalam teori marketing, membuat keunikan dalam produk adalah sebuah keharusan. Dengan positioning yang jauh berbeda dibanding film superhero lainnya, Deadpool seakan-akan menjadi karakter yang niche. Saat film superhero dilepas untuk semua umur, Deadpool memilih untuk jadi superhero khusus dewasa. Pilihan yang sepintas merugikan. Tapi, justru jadi menarik minat banyak orang untuk menyaksikan sepak terjangnya.

Dari Deadpool, kita para content marketer bisa belajar, tidak perlu menyasar semua orang untuk mendapatkan penjualan yang gemilang. Cukup pastikan, apa yang target audiens kita sukai, dan fokuskan produk di audiens tersebut. Kadang, bermain di area niche justru bisa menghasilkan keuntungan yang jauh lebih banyak dibanding berperang di pasar umum.

***

Hal lain yang dimiliki Deadpool adalah, dia tidak takut menampilkan personality-nya.

Dengan gaya yang nyeleneh, humor sarkastis nan miring, dan kesukaan berbuat sadis, membuat tidak ada satu pun superhero yang bisa menyamainya kualitas Deadpool. Termasuk Spider-Man, yang sebenarnya punya karakter yang cenderung konyol. 

Kekuatan personality adalah satu hal yang mutlak dimiliki saat kita bermain content marketing. Dan, untuk memunculkan personality tersebut, pengetahuan yang mendalam terhadap brand yang kita tangani adalah sebuah keharusan.

Dengan pemahaman yang mendalam, kita jadi bisa memunculkan kualitas-kualitas yang tidak klise dari brand kita. Memilih cara berkomunikasi yang khas. Dan menjadikan brand kita berbeda, di tengah keseragaman cara berkomunikasi yang dimainkan oleh brand dari industri sejenis.

Inovasi dan cara menyampaikan juga menjadi kunci keberhasilan komunikasi yang kita pilih. Kadang, pemahaman terhadap personality brand gagal hanya karena cara penyampaian yang salah kepada audiens.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah bisa menampilkan personality brand dalam proses komunikasi yang kita lakukan. Kalau belum, lekas lakukan sekarang!

 

***

Tingkatan tertinggi dari praktik content marketing yang dijalankan Deadpool adalah pengetahuannya terhadap audiens. Dia tahu betul, bagaimana menampilkan hal-hal yang disukai oleh audiensnya. Sehingga content-nya bisa menyebar dari mulut ke mulut, dan menghasilkan brand advocacy.

Marketer di belakang film Deadpool tahu benar, bahwa audiens tidak berkeberatan untuk mendengarkan sang jagoan menyumpah dan pameran kekerasan intens sepanjang film. Mereka mem-pushed dua hal ini sebagai kekuatan filmnya, dan meraih sukses.

Sebenarnya, ini adalah perjudian. Saat kita tidak tahu benar apa yang audiens suka dan butuhkan, namun kita nekat untuk mendorong content itu sekeras mungkin, kegagalan bisa saja terjadi. Karena belum tentu audiens merasa tertarik dengan yang kita tawarkan.

Namun, perjudian yang dilakukan Deadpool bisa dipertanggungjawabkan. Sejak merilis film pertama, Deadpool mencoba mencari tahu karakter audiensnya secara bertahap. Pelan tapi pasti, mereka menyusupkan swear words dan kekerasan dalam traillernya. Ternyata, semua hal itu dibeli oleh audiens.

Kenyataan ini membuat Deadpool semakin yakin untuk berbuat “semena-mena”. Dan,audiens pun semakin menggila dibuatnya.

Singkat kata, dari Deadpool kita bisa menarik kesimpulan : berikan audiens hal yang mereka suka. Dan content Anda akan menjadi raja dan membawa pengaruh baik pada bisnis Anda.

Mari bercerita. Karena kami percaya #storymovespeople!