Cerita Menggerakkan Orang untuk Beraksi

by : Rakhmat Kusnadi


Posted on November 25, 2016 12:00 PM
Bagikan melalui :


Setiap ada peristiwa, satu per satu tulisan dan foto langsung menjadi viral di media sosial. Tak ayal, siapa pun yang tergugah hatinya akan langsung menekan tombol “share”. Begitu juga dengan video dan cerita-cerita lucu.

Ilustrasi di atas cukup menggambarkan bahwa kekuatan sebuah konten dapat menimbulkan rasa antusias yang tinggi. Di media sosial misalnya, cerita-cerita sedih dan menyentuh akan sangat mudah untuk dibagikan. Begitu pun dengan cerita yang riang dan menghibur.

Apa yang membuat orang mau melakukan hal itu? Ini soal perasaan atau emosi. Prosesnya bisa berlangsung instan, ada pula yang terencana.  

Live streaming Steve Jobs, pendiri Apple, sekian tahun lalu, selalu mengundang rasa penasaran. Jutaan audiens dari berbagai penjuru dunia memantau via YouTube. Padahal apa yang mau dipresentasikan Jobs adalah peluncuran produk perusahaannya: iPhone.

Steve Jobs satu hal, iPhone hal yang kedua. Jobs semacam “dewa” dalam jagat industrinya. Nama besar. Apa pun yang ia lakukan selalu menjadi bahan obrolan menarik. Sementara iPhone, sebuah rumor diciptakan menjelang tanggal peluncurannya.

Cerita menyebar tentang fitur dan teknologi baru iPhone. Tetapi semua barulah prakiraan. Para gadget freak kasak-kusuk menerka-nerka.

Rasa penasaran adalah “emosi”. Skenario cerita atau strategi ada di belakangnya.

Alhasil, menonton live streaming pun dilakukan banyak orang. Walau harus melakukan pada pagi buta,  tidak peduli.

Lepas presentasi, audiens yang penasaran terpuaskan. Cara Jobs mempresentasikan menarik (berkat latihan intensif), barang yang dipresentasikan pun memenuhi – bahkan melebihi – ekspektasi. 

Kisah peluncuran iPhone pun segera memenuhi semua lini masa. Viral. Lalu, sesudah itu, masuklah audiens ke fase berikutnya: berbondong antre pada penjualan perdana.

 

 

Cara Apple kerap dipakai banyak orang. Mark Zuckerberg sang empunya Facebook, belum lama ini juga melakukan. Itulah saat ia melansir fitur terbaru Facebook, secara langsung di platform-nya sendiri.

Yang menarik, kalau Anda menonton, baik Steve Jobs dan Zuckerberg tidak “tembak langsung” semata membicarakan produk dan fitur. Ada pendramaan. Ada dramaturgi.  Panggung presentasi layaknya panggung teater. Memukau, bahkan setiap frasa yang keluar seperti sihir.

Para pakar presentasi menyebutnya sebagai “company speak”. Paparan bisnis dirangkai dalam sebuah cerita yang menarik, yang membuat setiap informasi dinanti-nanti.

Penyusunan cerita dalam berbagai bentuk sajian memberi andil besar. Mulai dari fase pemahaman, edukasi, dalam suasana yang nyaman.

Dalam kasus Steve Jobs, begitu kuat impresi yang tercipta, hingga berdampak kepada angka penjualan. Dan hal itu berulangkali terjadi di mana pada akhirnya audiens berubah menjadi semacam kaum loyalis, orang-orang yang loyal.

Inilah jenis audiens yang diidamkan banyak pelaku bisnis. Audiens yang tergugah secara emosional, merekalah itu yang dengan lekas men-share semua kisah brand Anda. Lewat satu sentuhan tombol di gadget, tentu saja.