Indonesia Content Marketing Forum 2019 Hadirkan 8 Pembicara dan 48 Juara

by : Grid


Posted on April 01, 2019 12:00 PM
Bagikan melalui :


Pagelaran penganugrahan bagi para pelaku content marketing di Indonesia, Indonesia Content Marketing Awards, digelar untuk kedua kalinya dengan lebih meriah. Selain menganugerahi sebanyak 21 penghargaan kepada para pelaku industri, pagelaran ICMF 2019 yang pertama juga menghadirkan delapan pembicara ternama yang berbagi pengalaman mengenai tantangan dalam dunia content marketing.

Ajang penghargaan Indonesia Content Marketing Forum (ICMF) dan Indonesia Content Marketing Awards (ICMA) 2019 telah usai digelar pada Rabu, 27 Maret 2019. Acara yang diselenggarakan oleh KG Media, Grid Story Factory dan Grid Voice di Ballroom Djakarta Theater ini menjadi pusat perhatian berbagai kalangan bisnis.

Tak kurang dari 700 perwakilan pelaku pemasaran dari beragam industri hadir. Begitupun dengan kehadiran para pejabat dari  berbagai institusi pemerintahan yang ikut ambil bagian. Perhelatan dibuka oleh Reiza Maspaitella selaku Chairman ICMF 2019 memaparkan tema “Create Creative Content Marketing Roadmap”.

Event forum ICMF yang dimeriahkan oleh delapan (8) pembicara ahli di bidangnya banyak menarik atensi dari para pelaku pemasaran. Topik seperti The Power of Understanding Your Audience & Social Media Trends” yang dipresentasikan oleh Janet Choo, (Director of Client Management & Social Growth JAPAC – Socialbakers). Dalam materinya, Janet memaparkan bahwa, “Sebagai brand, kita harus memilih platform media social yang tepat.” Karena menurut Janet, karakter user di Indonesia sejak tahun 2018 memiliki volume aktivitas yang banyak di platform Facebook, “Tapi untuk interaksi dan percakapan, lebih banyak terjadi di Instagram,” sambung Janet. Sehingga Janet menyimpulkan, untuk ekspansi tingkat awareness dari suatu brand, maka Facebook masih menjadi platform yang efektif. Sedangkan jika ingin berinteraksi atau meningkatkan engagement users, maka Instagram adalah pilihan yang tepat.

Tidak lupa Janet juga menambahkan, bahwa konten video yang orisinal, dekat dengan kehidupan sehari-hari, menjadi strategi yang tepat dalam membuat konten. Janet memprediksi bahwa tahun ini konten berjenis video akan menyamai bahkan menyalip jumlah interaksi yang dihasilkan oleh konten berjenis foto.

Pada sesi “Shady Side of Influencer Marketing” yang dibawakan oleh Sara Herfina Krismayanto (Corporate Marketing Strategy Manager JD.ID) dan Suryo Hapsoro (Senior Content Marketing iFlix), menjelaskan betapa pentingnya influence atau pengaruh (preferensi) dari seseorang yang terdekat atau terpercaya, memengaruhi persepsi kita terhadap suatu brand atau produk yang belum kita kenal. Dalam hal ini seorang influencer marketing berperan besar dalam mereferensikan suatu brand atau produk.

“Influencer itu ibaratnya mesin, mesin untuk memersonalisasikan pesan dari suatu brand atau produk, terhadap follower-nya,” ucap Suryo. Dengan penyampaian yang sesuai dengan keseharian dari para follower-nya, maka audiens semakin mudah menerima brand tersebut.

Fina, sapaan akrab dari Sara Herfina, juga menjelaskan bahwa influencer marketing mempunyai beberapa lapisan atau layer. “Karena kalau kita mau building loyalty, building engagement, building repurchasery, then we’ll go for little influencer. That are ‘more reliable’, ‘more creating engagement’, creating more conversation,” jelasnya. Jadi influencer marketing yang dipilih menyesuaikan dengan brand positioning dan goals yang mau dicapai.

Di sesi berikutnya, “Think Like a Film Maker” yang dibawakan oleh Raditya Beer (Senior Brand Manager AXE Masterbrand of Unilever) dan Sheila Timothy (COO Lifelike Picture) membahas cara menyampaikan pesan dari brand melalui teknik storytelling. Di sesi ini baik Raditya Beer dan Sheila Timothy sepakat bahwa suatu brand harus tahu apa yang diiinginkan dari para audiens.

“Karena sebagai brand, kita harus tahu kesukaan dari para audiens. Apalagi setiap user mempunyai multiple interest yang berbeda-beda. Jadi kita harus tahu apa yang mereka butuhkan,” jelas Raditya Beer. Sedangkan Lala, sapaan akrab Sheila, menjelaskan, “Kita harus peka, kita harus pasang telinga untuk mendengarkan apa yang audience itu benar-benar inginkan.” Dan keduanya juga sepakat bahwa dalam membuat web series ataupun film, harus mempunyai bagian yang autentik dan berbeda. Hal ini bertujuan untuk mencegah kebosanan dari audiens jika film yang dibawakan mempunyai alur cerita yang sudah umum.

Sesi “Value of Perceived Value” oleh pembicara Budi Sulistyo (Kepala Sub Bagian Biro KLI Kementerian Keuangan) dan Fikri Irvandi (Content Marketing Specialist Brodo) menjelaskan betapa pentingnya owned media channel dari sebuah brand ataupun institusi pemerintahan. Budi menjelaskan, dengan semakin banyaknya generasi millennial yang sangat paham teknologi, maka Kemenkeu pun bertransformasi menjadi institusi yang bisa mengikuti perkembangan zaman. “Kita sekarang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mengomunikasikan kebijakan, salah satunya,” ucap Budi.

Sedangkan Fikri menjelaskan, bahwa di Brodo kerap mendengarkan feedback atau comment dari customer, non customer, atau yang pernah membeli produk Brodo namun tidak pernah membeli lagi, melalui owned media channel yang dimilikinya. Dengan mengetahui reaksi dari pelanggan, “Feedback-nya ke kita menjadi besar banget,” ucap Fikri.

Dan pada sesi terakhir ICMF 2019 “How to Genuinely Nurturing Community to Create Engaging Content” yang diceritakan oleh Harimula Muharam (Head of Marketing Division Eiger) memberikan insight menarik bagi para marketer. “Jadi integrated marketing communication yang kami lakukan adalah selalu berusaha untuk melibatkan komunitas,” tutur Lula, sapaan akrab Harimula. “Karena dengan semakin dekatnya kita dengan audiens, maka selain kita tahu needs dan wants dari mereka, kita juga bisa tahu apa desire dari mereka,” tambah Lula. Dan dari hasil obrolan dengan komunitas terbaru, bisa tercipta bentuk bisnis baru.

 

Brand Terbaik dari Seleksi yang Panjang

Pada perhelatan berikutnya, yaitu ICMA 2019, puluhan brand menerima penghargaan atas prestasi, inovasi, dan kreativitas yang diterapkan dalam menerapkan strategi content marketing sepanjang tahun 2018. Ada tiga kelompok penghargaan besar yang diperebutkan dalam ajang kali ini, yaitu kelompok “Owned Media”, “Influencer Marketing” dan “In-house Magazine”.

Brand yang berhasil memenangkan penghargaan telah melalui penilaian ketat dari para juri ICMA 2019 terdiri dari Andi Sadha (Chairman APMF), Dennis Adhiswara (CEO Layaria Network), Abang Edwin (Founder Bangwin Consulting), Wicaksono (Former Chief Editor Beritagar.id), Dian Gemiano (CMO KG Media), Indira Dhian.S (Editor in Chief NOVA), Eddy Suhardy (Senior Journalist), Vaksiandra Nuryadi (Lead & Strategy Specialist Grid Story Factory) dan Yuliandi Kusuma yang bertindak sebagai Head Judge sekaligus Chairman of ICMA.

Dalam ICMA 2019, 26 brand keluar sebagai juara dari 9 kategori industri. Sementara untuk kategori Influencer Marketing, enam pemenang berhasil menjadi juara dari dua kategori yaitu Private Sector dan Government & State Owned Enterprises. Dan untuk kategori “In-House Magazine” terdapat sembilan brand yang menjadi juara dari tiga kategori yaitu, Private Sector, Government dan State Owned Enterprises.

Tidak kalah menarik adalah penghargaan “Special Award” yang diberikan dalam enam kategori, yaitu “The Best Use of Brand Website”, “The Best Use of Facebook”, “The Best Use of Instagram”, “The Best Use of Youtube”, “The Best Influencer Marketing Strategy” dan “The Best Creative Content in Influencer Marketing Implementation”.

Adapun yang berhak menyandang gelar sebagai yang “terbaik” di seluruh kategori industri tahun ini adalah brand personal care khusus wanita yaitu, Softex.  Hasil penghitungan poin dari seluruh juri menunjukkan bahwa Softex meraih skor tertinggi dan memperoleh predikat terbaik untuk ICMA 2019.

Info selengkapnya terkait ajang penghargaan Indonesia Content Marketing Awards 2019 dan Indonesia Content Marketing Forum 2019 dapat diakses melalui tautan http://icmf.co.id