Inhouse Magazine Masih Menjadi Primadona Sebagai Media Komunikasi Perusahaan

by : Rakhmat Kusnadi


Posted on February 24, 2017 15:00 PM
Bagikan melalui :


Komunikasi internal dalam sebuah perusahaan dapat ditempuh dengan berbagai cara. Seiring perkembangan teknologi, dewasa ini semakin banyak tools yang dapat digunakan untuk mengomunikasikan visi dan misi perusahaan kepada segenap karyawannya, juga bagi audiensnya. Namun, keberadaan Inhouse Magazine berbasis print, dinilai masih efektif sebagai alat untuk mengomunikasikan strategi perusahaan.

Setiap perusahaan pasti memiliki alat atau media untuk mengomunikasikan strategi, visi, dan misi kepada setiap karyawannya, juga kepada audiens, dan rekanannya. Hal tersebut sebagai upaya agar manajemen dan karyawan dapat bersinergi menggapai target yang telah ditentukan (internal), dan untuk menyampaikan informasi terkini dari perusahaan tersebut (eksternal).

Internal Publication juga dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, terlebih dalam era teknologi yang semakin canggih ini, email dan enewsletter mulai banyak digunakan sebagai tools untuk mengomunikasikan berbagai informasi internal perusahaan. 

Namun demikian, beberapa perusahaan masih menilai media digital belum dapat menjangkau semua kalangan. Sebab, saat ini tengah terjadi fenomena yang menarik, di mana semua perusahaan saat ini tengah mengalami pembauran dari tiga generasi. Generasi pemimpin yang rata-rata hadir masih dari kalangan Baby Boomers, disusul dengan generasi X yang berada pada level manajer, serta generasi Y yang seharusnya sudah dapat mengisi posisi superintendent.

Perbedaan generasi yang berada dalam lingkup perusahaan, boleh jadi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kebiasaan menerima komunikasi dan pesan. Hal tersebut membuat Inhouse Magazine berbasis print menjadi salah satu media komunikasi internal yang dinilai efektif.

 

Manfaat Besar Dari Inhouse Magazine

Dalam sebuah Internal Publication, terdapat banyak manfaat bagi perusahaan yang mempublikasikannya. Semisal adanya paparan dari Board of Director kepada manajemen atas dan menengah, atau dari manajemen kepada karyawannya. Selain itu, tidak sedikit perusahaan yang mempublikasikan Internal Publication secara luas kepada stakeholder-nya.

Salah satu contoh dari Internal Publication yang dimaksud, adalah Grandeur sebuah Inhouse Magazine dari Bank Bukopin Prioritas yang pernah kami produksi. Majalah Grandeur merupakan majalah bergenre lifestyle yang menjadi tools komunikasi dari Bank Bukopin Prioritas untuk menjangkau komunikasi terhadap karyawan, nasabah, serta rekanannya.

 

Bukan tanpa alasan Bank Bukopin Prioritas memilih Inhouse Magazine sebagai media untuk berkomunikasi dengan audiensnya. Sebab, keberadaan majalah Grandeur memiliki tujuan untuk mendapatkan retensi pelanggan yang notabenenya adalah nasabahnya sendiri. Dari hal seperti itulah, loyalitas nasabah akan terjaga.

Manfaat lain dari Internal Publication berbasis print, mampu menarik perhatian audiens. Berdasarkan pengamatan kami melihat kebiasaan audiens, untuk mendapatkan informasi yang bersifat aktual mereka akan lebih memilih platform digital. Namun, untuk kedalaman pesan atau berita, mereka masih memilih majalah cetak.

Sampai sejauh ini, kami juga masih dipercaya oleh banyak perusahaan untuk mengelola produksi pengerjaan majalah internal. Majalah Silver dari Siloam yang kami kelola, belum lama ini menerima penghargaan Gold di ajang Inhouse Magazine Awards (InMA 2017). Majalah Silver ditujukan bagi audiens Rumah Sakit Siloam yang terdiri dari pasien dan pengunjung lainnya. Dengan format majalah cetak, manajemen Siloam dapat memaparkan berbagai tulisan informatif seputar kesehatan langsung kepada pengunjung.

 

Hal-hal seperti itu tidak terlepas dari strategi komunikasi yang telah dirancang oleh setiap perusahan. Owned Media perusahaan pada akhirnya akan disesuaikan dengan target marketnya sendiri. Dan, pilihan membuat Inhouse Magazine berbasis print masih menjadi primadona, sebagai pilihan yang paling efektif dalam menyasar target audiensnya.

So, meskipun gerusan teknologi yang semakin cepat dengan adanya aplikasi dan berbagai sarana publikasi digital, bukan berarti industri print media tengah mencapai senjakala. Sebaliknya, print media baru saja menemukan blue ocean-nya.