Kampanye Pilpres Lebih Paten dengan Pemasaran Konten

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on October 12, 2018 12:00 PM
Bagikan melalui :


Bendera start masa kampanye sudah dikibarkan. Dua kubu calon presiden dan wakil presiden, khususnya tim juru kampanye alias tim sukses sudah saling buka suara, berdebat kuat, adu mulut berseteru seru.

Media sosial memanas, mengemas trending topic soal politik. Terus tiada henti, saling berganti. Segala bentuk konten dijadikan senjata paten. Niatnya bukan bikin pencerahan masyarakat yang kian terheran-heran. Melainkan jurus serang agar lawan tak bisa tenang. Dari seberang membalas garang, maka lalu membuka perang.

Hari-hari kampanye Pemilihan RI 1 dan RI 2 2019 tampaknya tak lagi dihias dengan adu gagasan. Sampai 13 April, boleh jadi Anda hanya melihat arena tanding mulut zonder membawa pesan. Bahkan bukan tidak mungkin jika lomba tawarkan ide itu berubah jadi lomba hujat-hujatan. Atau merupakan ajang tiupkan ketidaksukaan dan kebencian.

Jelas, konsep pemasaran konten (content marketing) dalam strategi politik cerdas dan santun tidak demikian adanya. Politik membutuhkan konten bagus untuk membangun citra, tetapi bukan pencitraan.

Citra dibangun untuk tujuan jangka panjang dan disiapkan dengan memikirkan segala aspek. Pencitraan dibikin untuk jangka pendek dan umumnya tidak direncanakan lewat pemikiran matang atau hanya sekadar memanfaatkan momentum sekejap.

Cara membangun citra paling sederhana adalah dengan melahirkan gagasan dan terobosan. Bukan lewat perang mulut dan debat tanpa juntrung. Gagasan-gagasan itu mustinya berisi kajian lengkap bersama solusi. Solusi yang bisa dieksekusi baik oleh pemerintahnya atau warganya.

Melahirkan gagasan tak bisa dilakukan dengan mengedepankan segala asumsi. Asumsi yang bertemu asumsi akan menimbulkan asumsi. Begitu seterusnya sampai kemudian solusi yang ditawarkan sesungguhnya tidak solutif.

Gagasan muncul karena melalui proses seperti melakukan riset, memanfaatkan data dan fakta, kemudian menjahitnya menjadi sebuah kajian komprehensif. Gagasan semakin cemerlang ketika disudahi dengan konklusi dan dipungkasi dengan solusi.

Hal-hal inilah yang ditunggu oleh rakyat yang kian cerdas di era milenial. Masyarakat haus akan rincian ide dan solusinya yang menggambarkan Indonesia lima atau 10 tahun ke depan.  

Citra positif seorang pemimpin atau partainya adalah karena kecerdasannya (termasuk kecerdasan kolektif para pendukungnya) memandang dan mencari jalan keluar atas persoalan bangsanya. Mereka tidak gampang terjebak oleh serangan lawan yang murahan. Mereka kuat dan konsisten mempertahankan gagasan-gagasan barunya ke publik. Kendati pun gagasannya itu pun belum teruji, belum pula dimulai, belum juga dilakukan.

Gagasan yang memberikan gambaran jelas, menggunakan data valid, maupun rancangan lengkap berupa peta jalan maupun cara menempuhnya, justru dapat dijadikan sebagai konten untuk memasarkan diri sang calon. Ketika menimbulkan bantahan dan sanggahan dari lawan, maka justru pada saat itulah gagasan itu tengah diuji.

Masa kampanye Pemilihan Umum 2019 masih enam bulan lebih. Sebuah durasi yang cukup panjang untuk melontarkan gagasan.

Hemat penulis, ada beberapa gagasan yang dapat dilontarkan sebagai sebuah konten. Konten dilengkapi oleh angka-angka hasil penelitian dan survei. Selanjutnya diteruskan dengan analisis secara komprehensif dari berbagai aspek. Hingga kemudian disodorkan pula langkah kebijakan untuk proses ekskusi dengan segamblang-gamblangnya sampai rakyat jelata pun paham.

Konten-konten ini jelas lebih memiliki nilai “jual” ketimbang menggunakan konten yang bersifat ofensif kepada kontestan lain.  

Misalnya:

 1.  Kajian Infrastruktur Indonesia Masa Kini dan Masa Depan

Jalan tol yang telah memanjang, kabel serat optik serta BTS yang telah men-cover pelosok, tersedianya irigasi maupun dam-dam baru hingga penyediaan listrik ribuan megawatt. Ini merupakan capaian era periode sekarang. Seterusnya cobalah lakukan kajian komprehensif tentang apa yang terjadi dengan sebuah kawasan oeleh ketersediaan infrastruktur tersebut, seberapa majunya kawasan itu kelak dan bagaimana membuat cetak biru sebuah kawasan.

 2.  Kajian Industri dan Prospek Devisa Melalui Ekspor

Ketika daya ekspor Indonesia melemah, sektor industri seharusnya disiapkan menjadi tulang punggung. Mencari dan memetakan industri baru dan kreatif yang memiliki pasar lokal maupun internasional komplet dengan nilai peluangnya merupakan tantangan menarik. Atau merestorasi industri lama yang masih memiliki potensi, sembari menggali value yang dapat dijadikan sebagai kekuatan. Kemudian ditambahkan nilai devisa yang diperoleh berdasarkan riset pasar internasional dan domestik.

3.  Kajian Pendidikan dan Sumber Daya Manusia

Pola pendidikan yang kerap berubah (para guru sering bilang, “Ganti menteri, ganti sistem.”) adalah akibat perspektif yang selalu berbeda. Tak heran jika sektor pendidikan merupakan salah satu yang tidak pernah konsisten. Pendidikan guna melahirkan manusia dengan kemampuan menghadapi persaingan global dan menjadi tenaga kerja di rumah sendiri bisa terlontar menjadi isu. Tentu saja kajian SDM Indonesia saat ini dengan indeks-indeksnya, kebutuhan akan tenaga kerja di seluruh sektor, serta faktor relevan lain dapat menjadi bahan riset mendalam.

 4.  Kajian Literasi Alam dan Fakta Bencana

Minimnya pemahaman masyarakat (bahkan pemimpin daerah) pada daerah tempat tinggalnya, keengganan akan mempelajari literasi alam dan lingkungan hidupnya, maupun sejarah tanah kelahirannya, membuat perencanaan akan pengelolaan alam dan tanggap bencana pun sangat minimal. Jika Anda bisa bekerjasama dengan sang ahli maupun lembaga tanpa terikat oleh tali politik, mengapa tidak melakukan telahaan pengembangan serta memetakan jalan keluar dengan lebih konkret. Sehingga setiap kawasan memiliki acuan detil beserta kebutuhan. Misalnya, di Sulawesi Tengah memiliki struktur alam sedemikian rupa sehingga membutuhkan alat pendeteksi bencana plus rincian jumlah dan anggarannya. Makin rinci, makin aplikatif.

5.  Kajian Potensi Sumber Daya Alam dan Ketahanan Pangan

Impor bahan asal alam membuat negeri kita memiliki ketergantungan pada negara lain. Di sisi lain, sumber daya alam negeri ini memang belum cukup optimal dimanfaatkan. Padahal ada banyak cara untuk meningkatkan sebagaimana negara pengimpor menjual bahan tersebut ke Indonesia. Beras, kedelai, bawang, buah-buahan hingga produk ternak maupun perikanan memerlukan kajian agar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sejumlah riset yang dilakukan baik oleh lembaga penelitian maupun perorangan menjadi bahan data untuk pengembangan dan penentuan kebijakan.

 
6.  Kajian Kepatuhan Hukum dan Sikat Korupsi

Semua paham akan pemberantasan penyakit jahat luar biasa bernama korupsi. Cuma seringkali berganti-ganti obat yang umumnya juga tidak mujarab. Menyikat perlawanan terhadap hukum maupun tindakan korupsi membutuhkan konsep dan aturan super. Tak cukup hanya mengandalkan moral dan norma. Buktinya koruptor tak juga jatuh miskin, pun hanya perlu meringkuk di penjara bintang lima dengan fasilitas bak apartemen. Konsep dan ketegasan serba super itulah yang ditunggu-tunggu. Dan….konsisten. Termasuk kejahatan narkoba yang menurut riset BNN (tahun 2017) ada 3,3 juta warga menyalahgunakan.

 
7.  Kajian Kesehatan Masyarakat dan Biaya bagi Kesehatan

Bidang kesehatan adalah krusial dan sensitif. Tidak saja karena orang butuh layanan kesehatan yang baik agar lekas sehat, namun juga oleh sebab persoalan kemanusiaan yang kerap dinomorduakan oleh pengelola kesehatan itu sendiri. Perjalanan BPJS yang belakangan terseok-seok dan pengelolaan keuangan jaminan kesehatan mungkin memang sudah harus dievaluasi dari segala sisi. Ada kah solusi? Ada, tentu dimulai dengan menghitung kembali besarnya uang masuk dan uang keluar. Asal ada hitung-hitungan jelas dan masuk akal, kebijakan baru amat dinanti, agar tak lalu menggerus anggaran negara.

 

Masyarakat Indonesia yang sudah mudah mengakses informasi tak bisa lagi dipertontonkan kegaduhan di panggung kampanye. Keributan hanya akan membikin malu sendiri capres dan cawapres. Masyarakat menginginkan calon pemimpin yang visionaris. Bicara berdasarkan data, memberi solusi yang tidak mengada-ada.

Dan, gagasan-gagasan itu merupakan bahan untuk ber-content marketing. Merdeka! (*)