Kunci Sukses Sang Pelopor Air Kemasan

by : Sukrisna Wiharja


Posted on January 23, 2017 17:00 PM
Bagikan melalui :


Tak mudah menjadi sebuah produk pelopor. Tim harus memulai dari nol. Ini yang dirasakan oleh tim yang membidani lahirnya produk air kemasan di Indonesia, Aqua.

Ketika produk ini diluncurkan pada bulan Oktober 1974, banyak masyarakat yang tak tertarik untuk mencobanya. Bahkan cenderung mencibir langkah Tirto Utomo yang mencoba menjual air kemasan.

Bahkan seorang Ibnu Sutowo  pun sempat geleng-geleng kepala dengan rencana Tirto tersebut. "Aneh, Tirto iki. Air yang mudah didapat di mana-mana, kok, dimasukkan ke botol."

Tak heran, tiga tahun pasca dikuncurkan Aqua, nilai penjualan masih belum bisa menutupi biaya operasional. Tiap bulan, manajeman Aqua harus menghadap sang pemilik untuk minta uang tombokan.

Setelah tiga tahun tekor, Tirto pun memberi ultimatum. Bila terus merugi, terpaksa pabrik harus ditutup.

Tim pemasaran pun melakukan rapat maraton. Maklum, devisi inilah yang sebenarnya menjadi ujung tombak dan penentu apakah Aqua akan tetap beroperasi atau berhenti. Di saat-saat tertekan itu muncul ide-ide yang out of the box. Salah satunya keputusan, untuk meningkatkan penjualan dengan menaikkan harga!

Secara logika memang tidak masuk akal. Tapi siapa sangka, justru keputusan itu menjadi titik balik penjualan Aqua di pasar. Sejak naik harga, justru penjualan makin meningkat karena sebenarnya konsumen Aqua adalah golongan menengah ke atas.

Salesman juga melakukan penawaran door to door di perumahan kelas atas. Targetnya memperkenalkan produk dan membuat sang pemilik rumah mau mencobanya.

Selain itu, tim pemasaran juga menggarap warung-warung rokok di pinggir jalan. Seperti diketahui, saat itu hanya satu soft drink yang menguasai pasar minuman kemasan di pasar. Itu sebabnya, Aqua ingin hadir dan bersanding dengan brand soft drink yang sudah menancap kuat di pasar.

Tirto pun punya langkah jitu. Ia sengaja hanya memajang 3 botol di warung-warung rokok pinggir jalan. Dengan hanya tiga botol tersebut, bila dua saja terjual, maka kesan yang muncul prosuknya laris manis karena tingggal satu.

Namun sebenarnya ada satu kunci sukses yang dilakukan tim pemasaran memposisikan diri Aqua sebagai minuman sehat. Pesan itu yang selalu disampaikan  para marketing kepada calon pembeli. Bila ingin sehat, ya minumlah Aqua.

Sumber: www.aqua.com

Untuk menebalkan campaign itu, Aqua masuk menjadi sponsor acara-acara olahraga tingkat nasional. Bahkan beberapa acara kenegaraan, minuman ini juga sering hadir bersanding dengan gelas kaca.

Setelah sepuluh tahun, Aqua sudah menguasai pasar. Masyarakat pun sudah terbiasa mengkonsumsi air mineral dan pesaing pun mulai muncul karena melihat ceruk pasar ini yang terus bisa berkembang.

Kini mengkonsumsi air mineral sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Dan Aqua bukan hanya mengembangkan produknya, tetapi juga layanannya. Salah satu yang terbaru adalah aplikasi pemesanan air kemasan ini.

Meski di dalam testimoni aplikasi Halo Aqua ini masih banyak yang negatif lantaran tersendatnya pengiriman dari distributor, tapi langkah Aqua lagi-lagi berusaha “membelokkan” kebiasan masyarakat yang membeli air mineral di warung, mini market atau telepon ke depot air mineral, seperti layaknya memesan gas elpiji.

Apakah usaha ini akan berhasil? Kita lihat saja 2-3 tahun ke depan, apakah Anda akan membeli air mineral galon dari ujung jari atau masih angkat telepon.