Manchester United, Klub Sepakbola atau Media Global Terbesar?

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on September 26, 2018 16:00 PM
Bagikan melalui :


Pertanyaan ini mendadak muncul di benak saya, saat menyaksikan pertandingan Manchester United vs. Young Boys tanggal 20 September 2018 silam. Waktu itu, saya sempat bingung, mau menyaksikan pertandingan kurang bergengsi ini dimana? Beruntung ada MUTV yang menyiarkan semua pertandingan yang dimainkan Man Utd.

MUTV channel memang bukan barang baru. Beberapa tahun terakhir, klub Setan Merah-nya Inggris ini memang mencoba mengembangkan pendapatan baru berbasis jutaan penggemarnya di seluruh penjuru dunia.Dimulai dari fans club, dan berlanjut hingga berbagai produk turunan. Dan salah satunya MUTV channel.   

Fokusnya manajemen Manchester United membangun MUTV merefleksikan perubahan kondisi ekonomi di bisnis olahraga. Peningkatan kebutuhan akan direct revenues dan data audiens, membuat Man Utd akhirnya turun langsung memproduksi dan menyebarkan konten olahraga.

Hasilnya luar biasa. Revenue Man Utd yang didapat dari MUTV meningkat pesat. Ini yang menyebabkan Ed Woodward, Executive Vice-Chairman Man Utd mengumumkan untuk bermain lebih agresif di aplikasi MUTV dan platform owned media milik MUTV lainnya. Tujuannya, mendapatkan keuntungan melalui promosi above dan below the line yang dipasang partner.

Apa yang dilakukan Man Utd adalah bukti bahwa owned media memiliki kekuatan yang lebih dari sekadar landing page. Meski awalnya adalah sebuah tools untuk menyatukan fans, engagement yang terjadi di sebuah owned media ternyata memang bisa dikomersilkan.

Dimulai dengan membagikan konten seputar klub dan pemain, MU mengembangkan owned media-nya menjadi sebuah store. Tempat berjualan tiket, membership, hingga merchandise. Suporter pun diubah menjadi audiens, dan akhirnya dikonversi menjadi kustomer. Membuat pos pendapatan MU di merchandising menjadi lebih luas melalui bisnis digital.

Kesuksesan ini membuat Man Utd go deeper. Mencari kemungkinan bisnis lain melalui optimalisasi owned media.

Sadar bahwa mereka memiliki banyak konten yang dikembangkan dari pemain dan pertandingan yang mereka selenggarakan, akhirnya mereka pun memproduksi konten-konten eksklusif, menyiarkannya via MUTV, dan menjualnya ke beberapa pihak.

Saat me-launching kanal berlangganannya di Netflix, MUTV berhasil mendapatkan revenue tambahan sebesar 659 juta dolar dari fans mereka di berbagai penjuru dunia. Ternyata, banyak fans yang tertarik untuk mengakses berbagai pertandingan persahabatan, on demand content, dan live streaming latihan, sehingga rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menyaksikannya.

Sadar bahwa mereka perlu meningkatkan kualitas konten, klub akhirnya memekerjakan Phil Lynch, bekas orang nomer satu di Yahoo dan Sony Pictures, sebagai Chief Executive of Media. Harapannya, mereka bisa mendapatkan revenue lebih banyak lagi melalui owned media di kanal digital dan mobile.

***

Apa yang dilakukan MU sebenarnya bukan barang baru di industri sepakbola. Beberapa tim di belahan Eropa bahkan sudah lebih dahulu melakukannya. Namun, size bisnis yang didapat mereka masih jauh di bawah Man Utd.

Apa penyebabnya?

Kekuatan konten. Dengan materi pemain yang dimiliki Man Utd, dan sejarah yang panjang yang sudah mereka lalui, membuat konten seputar Man Utd jadi sangat berharga. Ditambah kemampuan mereka menciptakan konten-konten yang engageable, menjadikan Man Utd berhasil memeroleh audiens yang jauh lebih banyak dari klub lainnya.

Konten memang yang utama. Tapi, jangan lupa, story yang menyertai konten juga perlu dilihat. Tanpa story yang kuat, konten kita tidak akan engage sebaik konten yang memiliki story kuat.

So, apalagi yang ditunggu? Marilah berinvestasi membangun owned media. Karena selain bisa memaksimalkan pemasaran, owned media yang baik bisa juga menjadi revenue stream baru untuk bisnis Anda.