Mari Menimbang Strategi Kanal Distribusi Konten B2B

by : Eddy Suhardy


Posted on September 30, 2018 09:00 AM
Bagikan melalui :


Ada banyak pilihan menjangkau target audiens dalam B2B. Menggunakan kanal distribusi konten di owned atau paid media? Tulisan ini mengajak Anda untuk menimbangnya.

Nah, kita bicara soal content marketing untuk B2B lagi nih.  Sudah baca soal B2B di tulisan sebelumnya? Kalau belum, Anda boleh membacanya di sini. Tetapi kalau mau terus lanjut, ya nggak masalah juga.

Secara ringkas, karena audiens yang disasar sangatlah spesifik (kalangan “B”) maka ada dua unsur lain dalam proses komunikasi yang harus disesuaikan. Pertama unsur kontennya, yang kedua soal saluran atau kanal distribusi konten.

Konten yang bagus dan relevan adalah kuncian awal dalam mendatangkan kustomer potensial. Tetapi konten yang bagus memang tetap harus di-marketing-kan melalui saluran distribusi yang pas.

Terkait masalah distribusi konten, ada analisis awal yang bisa kita lakukan atas dua saluran yang biasanya digunakan. Misal, saluran bernama e-mail, atau saluran media sosial.

 

Analisis Pelanggan Buletin Anda

Jika Anda mengemas konten dalam bentuk e-newsletter, maka konten Anda bisa dikirim ke akun e-mail khalayak sasaran yang ada di database. Terdengar konvensional, tetapi ternyata ampuh karena sifatnya yang personal.

Nah, jika Anda sudah memiliki e-newsletter atau e-bulletin yang disalurkan lewat e-mail, maka kajilah sekali lagi. Siapakah mereka. Apakah pilihan topik dan cara penyajian konten sudah menarik minat?

Beberapa brand biasanya menuliskan highlight dari topik menarik yang mereka sajikan dalam e-newsletter yang bisa dibaca di-e-mail. Jika tertarik, mereka akan melakukan klik (call to action; CTA) dan masuk laman website atau blog dari brand yang kita kelola. Jika banyak yang tidak tertarik, cari tahu kenapa mereka tidak tertarik dan selanjutnya kita coba memperbaikinya agar menarik.

Bagaimana Anda mempromosikan e-newsletter? Anda mungkin memiliki fitur untuk mendorong CTA di seluruh situs untuk mempromosikan e-newsletter, tetapi apakah Anda juga memiliki CTA untuk mendorong pelanggan baru? Ini perlu dipikirkan juga.

Contoh: adakah opsi berlangganan di footer template e-mail atau e-newsletter perusahaan Anda? Hal ini sering terlupa. Padahal sangat berguna dan mempermudah audiens berhubungan dengan Anda.

 

Analisis Media Sosial

Dalam tulisan sebelumnya disebutkan beberapa media sosial yang biasa digunakan dalam distribusi konten terkait dengan B2B.  Ada LinkedIn beserta Slideshare, bisa juga Facebook, Instagram atau YouTube.

Media sosial mana yang memberi kontribusi besar dalam mendatangkan kustomer potensial ke web Anda. Konten apa yang men-drive untuk masuk ke web? Berapa banyak yang bertanya dan membuka hubungan dengan brand Anda?

Hampir semua praktisi marketing B2B menggunakan LinkedIn sebagai saluran distribusi konten. Jika Anda memiliki akun premium, Anda dengan mudah memperoleh e-mail dan berhubungan dengan berbagai kalangan yang sesuai dengan target audiens yang Anda sasar.

Apakah Facebook atau Instagram juga potensial mendatangkan audiens dari kalangan “B”?  Kemungkinan itu tetaplah terbuka. Bukankah banyak brand dari berbagai industri memiliki akun di media sosial tersebut? Para pengambil keputusan pun secara personal biasanya juga memiliki akun di dua jenis medsos ini.

 

Konten Sesuai

Di mana pun ada mendistribusikan, organik atau berbayar, daya pikatnya memanglah konten.  Itu sebab janganlah pernah bosan menilik-ulang strategi konten.  Salah satu strategi dalam konten adalah memproduksi setidaknya tiga jenis konten.

 

  • Ada konten yang ringan, yang berguna untuk menggaet perhatian (attract), biasanya singkat-padat tapi menarik.
  • Ada konten yang bobotnya sedang, yang berguna untuk menumbuhkan interest; biasanya dalam tulisan relatif panjang (long form).
  • Ada konten seperti e-books, whitepaper yang berisi semisal laporan pertumbuhan industri atau hasil riset. Telaah yang disajikan secara komprehensif dinilai berbobot tinggi dan memberi dampak meyakinkan selain menimbulkan desire.

 

Dari tiga bobot konten di atas, biasanya yang nomor tiga yang akan menarik perhatian audiens “B”. Kenapa? Karena memang dibutuhkan dan penting. 

 

Kanal Berbayar? Boleh Juga

Tidak semua brand memiliki database yang memuat daftar sejumlah orang atau perusahaan yang terkait dalam lingkup industri.  Proses membangunnya membutuhkan waktu.

Agar segera bisa segera bergerak, para pemasar yang menjalankan content marketing strategy, kerap mengombinasikan distribusi kontennya di paid media.  

Taktik yang sah saja, asal tujuannya juga jelas dan budgetnya pun ada.

 

  • Native ads

Ada aneka opsi saat konten hendak dinampakkan di paid media. Misal, saat hendak menampilkan konten di web milik media massa, Anda perlu membuat native ads yang sesuai dengan langgam penyajian web tersebut.

Kalangan
content marketer menyebutnya sebagai teknik “in stream, pay-to-play” yang memungkinkan brand menampilkan konten yang kredibel dan berbasis informasi di situs pihak ketiga yang relevan.

 

  • SEM & Aplikasi Agensi

Pilihan berbayar yang lain adalah memanfaatkan Google Adwords bagi kampanye pemasaran yang dikategorikan sebagai Search Engine Marketing (SEM). Atau, brand dapat memanfaatkan aplikasi pihak agensi untuk menjangkau audiens “B”.  Agensi online seperti ReTargeter, ElToro, AdDaptive adalah contohnya.

 

  • Fitur Media Sosial

Di sisi berikutnya, ada media sosial. Mereka memiliki fitur distribusi konten untuk target audiens yang spesifik. Anda bisa menyetel ke siapa saja konten itu ditujukan.  

Facebook memiliki FaceBook Ads, LinkedIn memiliki layanan “Matched Audiences”. Seberapa banyak audiens yang didapatkan tentu saja sesuai dengan isi kocek brand Anda. 

Sejauh ini LinkedIn memiliki audiens dengan karakteristik yang cenderung cocok dengan target audiens “B”.  Fitur Matched Audiences-nya bahkan bisa menggapai akun para pembuat keputusan yang bercokol di media sosial ini. 




Source: Linkedin


  • Influencer

Jika Anda mengenal industri Anda dengan baik, Anda mungkin sudah memiliki gagasan tentang siapa orang-orang terkemuka yang bisa memberi pengaruh. Siapa tahu mereka juga merupakan orang yang Anda kenal sehingga sebelum bergerak Anda bisa berdiskusi terkait konten yang akan disiarkan.

Jika Anda tak memiliki orang yang Anda kenal, jangan khawatir juga.  Anda bisa menggunakan platform khusus untuk influencer marketing dan memilih salah satu di antarnya. Atau kenapa tidak menggunakan influencer marketing agency  seperti Grid Voice?

Well, begitulah. Tentu Anda tidak perlu selamanya menggantungkan diri pada fasilitas di paid media. Anda bisa mempelajari cara-cara dan metode yang mereka lakukan untuk kemudian mengembangkannya di media milik brand Anda sendiri.