Mendadak Data ala Gojek dan Joox

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on January 14, 2019 16:00 PM
Bagikan melalui :


Si Fulan senyam-senyum menyimak rapor transportasinya selama 2018. Ribuan kilometer sudah ia tempuh menggunakan motor. Hasil menunjukkan pelajaran Mobilitasnya meraih nilai A. Tetapi nilai itu berbanding terbalik dengan pelajaran Kedermawanan. Di pelajaran ini ia cuma “sukses” merebut nilai C. Pesan guru lebih kurang; Tahun 2019 Fulan lebih sering memberikan tips ke driver ojek.

Nilai-nilai pelajaran lainnya juga jempolan. Umpamanya nilai pelajaran Nafsu Makan. Maklum anak kos, jadi order ojek antar-jemput kuliner terbilang kerap.

Dengan nilai yang banyak A-nya itu, Fulan pede saja memamerkan rapor ke akun media sosial. Seperti biasa, lantas muncul komen. Ada engagement, begitulah kira-kira.

Semua pemilik akun Gojek pasti mendapat rapor. Jika sampai Mei 2018, jumlah user ojek online ini telah menembus 20 juta orang, maka minimal Gojek pada penghujung 2018 lalu telah memberikan rapor sebanyak itu pula.



Rapor pengguna Gojek yang diberi titel Laporan Kejog itu menjadi salah satu yang dibagi-bagikan oleh netizen selama periode akhir 2018-awal 2019. Tak hanya via medsos, namun juga chat messenger. Engagement yang terjadi berkembang. Dari sekadar berbagi, kemudian adu-aduan perjalanan terpanjang, paling sering memberi tips, paling kencang order makanan lewat Gofood, dan seterusnya.

Gojek sukses merilis konten pemasaran yang lebih personal. Konsumen Gojek yang sama sekali tak pernah memikirkan seberapa jauh mereka telah ngojek atau ngorder dalam setahun mendadak dihadapkan pada angka-angka statistik.

Bagi Gojek konten interaktif seperti ini (di mana big data lalu dikemas menjadi sebuah konten) barangkali hanya sekadar gimmick. Konten dibuat seolah main-main (meski datanya sahih). Namun, ketika disodorkan kepada audience-nya, justru menjadi sebuah bahan untuk menunjukkan eksistensinya.

Lebih lanjut, jika merujuk pada teori Eksistensial-nya Jean Paul Sartre, maka konten macam ini adalah bahan segar  untuk “memamerkan” diri seseorang. Jika ia eksis sebagai penumpang Gojek atau pemesan makanan Gofood dengan angka tinggi (berdasarkan data valid) serta merta ada keinginan untuk mem-viralkan. Ujungnya ia berharap  penghargaan dari follower-nya atau dari rekan-rekan grup ngobrolnya.

Tidak sulit mengemas konten personal macam ini. Kekuatan data pengguna atau konsumen adalah ujung tombak. Terlebih jika data tersebut meliputi berbagai aspek. Anda juga tidak perlu melakukan analisa data jelimet. Karena algoritma pada back end pada perusahaan digital atau online memungkinkan untuk menghasilkan data berdasarkan kreatifitas pembuatan kisi-kisi konten.

Oleh sebab itu, untuk menghasilkan rapor sebanyak puluhan juta, cepat saja dibikin Gojek. Sementara kemasan editorialnya sendiri bisa Anda buat dengan menggunakan matriks. Misalnya pada konten Pesan Guru untuk nilai A, Anda bisa bikin beberapa teks atau narasi yang sesuai dengan pemahaman segmentasi konsumennya.

Anda hanya membutuhkan dua sisi, IT dan kreator untuk memastikan konten personal sampai ke audience.

Pemasaran konten seperti ini boleh lah disebut jitu untuk menjaga loyalitas pelanggan. Paling tidak, jika Anda sebagai pelanggan menerima laporan detil pemakaian jasa yang ditawarkan oleh Gojek.

Cara serupa juga digelar Joox. Layanan streaming audio satu ini melaporkan pula pemakaian setiap penggunannya. Konten tersebut juga merujuk pada big data pengguna yang dimilikinya. Polanya tetap sama dengan algoritma seperti yang dibuat Gojek.


Joox melampirkan jumlah lagu yang didengar, total waktu yang digunakan untuk mendengar, lagu pertama yang Anda dengarkan, hingga artis atau grup band favorit versi setiap pengguna. Termasuk waktu yang paling sering digunakan mendengar koleksi lagu.

Data-data berupa angka itu lalu diracik dengan teks. Namun Joox tidak mengemas konten seperti Gojek yang mengundang senyum. Joox lebih mengutamakan grafis pada tampilannya.

Joox menamai konten sebagai Music Journey 2018. Perjalanan mendengar musik pengguna lalu dipungkasi dengan sebuah kesimpulan berupa frase kategori pengguna. Misalnya saja Anda seorang Midnight Thinker.

Hal yang tidak dilakukan Gojek adalah membagikan link pengguna ke pengguna lain. Sementara Joox menyisipkan nama-nama pengguna yang memiliki kemiripan selera genre lagu. Anda bisa mem-follow jika mau.

Lebih lanjut, tema konten semacam ini tentulah tak harus berupa laporan pemakaian. Boleh saja Anda kreasikan dengan tema seperti misalnya kuis, tebak-tebakan, atau gamification lain. Sejauh relevan dengan produk dan menyenangkan audience, mengapa tidak? (*)