Menulis Itu Gampang: Pakai Saja Piramida Terbalik

by : Eddy Suhardy


Posted on November 25, 2016 09:15 AM
Bagikan melalui :


Membuat tulisan dengan bantuan outline adalah cara yang paling mudah. Kalau sudah mulai lancar kita bisa menjajal struktur Piramida Terbalik. Apakah itu?

Logikanya dalam struktur bangunan – termasuk piramid – bagian bawah adalah fondasi. Fondasi adalah bagian paling penting. Fondasi menyangga bagian bangunan di atasnya.

Dalam struktur tulisan piramida terbalik posisi “fondasi” berada di atas. Artinya, struktur ini mengisyaratkan kita untuk meletakkan isi terpenting di bagian paling awal tulisan. Jadi, posisinya di di paragraf pertama, atau di kalangan jurnalis dikenal dengan istilah lead.

Dari yang terpenting, secara bertahap (di paragraf kedua, ketiga dan seterusnya) isi tulisan pun “turun” ke bagian yang kalau tidak dibaca pun tidak apa-apa.

Struktur Piramida Terbalik sudah dipakai lebih dari 150 tahun.  Kantor berita Associated Press (AP) kabarnya merupakan pihak pertama yang menerapkan struktur ini, terutama untuk penulisan berita lempang (straightnews). Lewat struktur ini, pembaca dengan cepat mengetahui apa inti isi dari tulisan yang dibuat.  Jika pembaca ingin mengetahui lebih jauh, ia bisa melihat apa yang ada di paragraf berikutnya.

Untuk para penulis berita, struktur ini menyelamatkan tulisan. Bila beritanya kepanjangan, sementara  ruang untuk memuat beritanya terbatas, jurnalis tinggal memotong bagian bawah (tail). Atau kalau perlu memotong satu paragraf sebelum paragraf terakhir.

Pemotongan ini tidak mengganggu pembaca. Kenapa? Karena inti berita sudah tersampaikan di lead dan paragraf paling atas.

Di sisi lain, sebuah berita dianggap lengkap jika bisa menjawab enam pertanyaan yang menjadi formula dasar pemberitaan. Kita mengenalnya dengan istilah “5W 1H” :

  • Who
  • What
  • Where
  • When
  • Why dan
  • How

Informasinya menjelaskan apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana.

Biasanya, sebisa mungkin para penulis berita menempatkan 6 fakta dalam 5W 1H ini di lead. Bila paragrafnya terlalu panjang – misalnya hanya 4 unsur saja – maka dua sisanya (misal unsur Why dan How) di tempatkan di paragraf berikut, sebagai bagian dari body atau tubuh tulisan.

Contoh berita Harian Kompas, Kamis, 10 November 2016, dengan pendekatan Piramida Terbalik:

Paragraf pertama (lead) menjelaskan:

APA? Truk tangki bahan bakar minyak Pertamina meledak

DI MANA? Di garasi PT Dharma Sentana Putra, Kawasan Industri Terboyo, Kecamatan Genuk, Semarang, Jawa Tengah

KAPAN? Rabu (9/11) dini hari.

Ada tiga unsur dari 5W 1H yang dianggap penting untuk memenuhi keingintahuan pembaca. Selanjutnya di paragraf berikutnya dijelaskan beberapa unsur lagi:

SIAPA? Korban tewas akibat ledakan tangki Rofik Al Gering (36), teknisi, dan Riyadi Setiawan (34), pendamping sopir.

BAGAIMANA? Rofik meninggal di tempat kejadian, sedangkan Riyadi sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.

KENAPA? Kepala Kepolisian Sektor Genuk Komisaris Hendrawan Hasan belum bisa menyimpulkan apa yang menjadi penyebab ledakan tersebut.”Apakah itu percikan api atau listrik, kami masih menunggu hasilnya,” kata Hendrawan.

Detail dari setiap unsur di atas terus dijelaskan paragraf demi paragraf. Namun inti terpenting dari contoh tadi, hanya dengan membaca judul dan lead pembaca sudah tahu inti terpenting dari berita tersebut.

Bisakah Kita Menggunakan Struktur Piramida Terbalik?

Tulisan dengan struktur pramida terbalik memang paling cocok digunakan untuk menyajikan berita. Struktur ini sering juga digunakan para petugas humas, yang kerap membuat press release.

Dalam penulisan artikel yang tidak terlalu newsy, logika dari struktur ini bisa juga diterapkan.  Tempatkan hal paling penting (cerita utama atau topik yang perlu diketahui audiens) di paragraf pertama. Lalu paragraf demi paragraf berikutnya mendetailkan apa yang disebut di paragraf pertama atau kedua.

Misal, dalam kasus “mencari gedung untuk resepsi pernikahan dalam sebulan”  kita tentukan apa yang paling penting yang mau kita kemukakan.  Dari sekian banyak pilihan (lihat: Menulis Itu Gampang) kita menempatkan persoalan “cara memperoleh gedung resepsi pernikahan dalam sebulan” sebagai bagian terpenting.

Contoh artikel:

Fulan, 28 tahun hendak menikah. Pasti, banyak hal harus diurus. Tapi yang bikin pusing,  ia belum menemukan gedung untuk resepsi pernikahan. Padahal waktunya tinggal sebulan lagi.

Jika Anda mengalami kasus seperti Fulan, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Bayar wedding organizer untuk mengurus. Atau,  lakukan browsing.  Cari tempat sesuai dengan konsep, budget dan jumlah undangan.

Ruang serbaguna rumah ibadah

Dalam kasus di atas, Fulan realistis. Memang ada sih beberapa ballroom di hotel bintang lima yang masih “kosong”. Tapi harga sewanya tak masuk ke budget Fulan.  Ia akhirnya mencari masjid yang memiliki fasilitas ruang resepsi.

Di Jakarta ada beberapa mesjid dengan fasilitas seperti itu.  Akhirnya, di salah satu masjid besar di Jakarta Selatan, Fulan memperoleh tempat. 

Ruang serbagunanya cukup menampung tamu undangan. Secara tampilan ruang itu representatif. Fasilitasnya pun memadai. Yang juga penting, tarifnya malah di bawah anggaran. Ia bahkan bisa melangsungkan akad-nikah di tempat itu juga.

(Di bagian ini sisipkanlah tabel rumah ibadah yang memiliki fasilitas penyewaan ruang serbagua untuk resepsi. Tabel berisi daftar nama, lokasi, luas, daya tampung dan fasilitas)

Ruang serbaguna instansi pemerintah atau swasta

Ruang serbaguna bukan hanya dimiliki rumah ibadah. Seandainya gagal mendapatkan tempat, Fulan punya rencana cadangan.

Rencana pertama, ia akan hunting ke gedung-gedung perkantoran.  Baik milik instansi pemerintah atau swasta. Tarif sewa rata-rata hampir sama  - bahkan ada yang kurang – dari tarif gedung yang dikhususkan untuk resepsi atau pameran.

(Lagi, sisipkan tabel  instansi pemerintah atau swasta  yang memiliki fasilitas penyewaan ruang serbagua untuk resepsi. Tabel berisi daftar nama, lokasi, luas, daya tampung dan fasilitas)

Ruang serbaguna perumahan

Rencana kedua, Fulan menjajaki kemungkinan penggunaan ruang serbaguna di komplek tempat ia tinggal. Kebetulan di dekat rumahnya ada sport center. Tempat itu bisa disewa. Kebetulan Fulan sempat berpikir untuk mengadakan semacam resepsi dengan konsep pool party.  Nah, cocok. Di sport center ada kolam renang.

Rumah sebagai tempat resepsi

Jika dua usaha di atas tak menemukan hasil, rencana paling akhir adalah mengadakan hajatan di rumah.  Memang, tak ada biaya sewa. Cuma panitia harus agak repot.

Ada kerepotan saat persiapan. Rumah harus tampil baik, harus dihias-hias dahulu. Acara di rumah juga harus izin RT/RW serta pihak keamanan.

Pun, karena jumlah hadirin banyak, perhitungkan daya tampung dan fasilitas parkir.  Lalu, setelah acara selesai, ada kerepotan lain:  harus membongkar semua dekorasi dan perlengkapan pesta.

Nah, itu beberapa hal yang bisa Anda lakukan dalam mencari gedung resepsi pernikahan dalam waktu relatif singkat.   Yang paling afdol, untuk memperoleh gedung resepsi pernikahan, lakukanlah  jauh-jauh hari.  Paling tidak setahun sebelumnya.

(Lagi-lagi, sisipkan tabel gedung penyewaan ruang resepsi, termasuk hotel. Tabel berisi daftar nama, lokasi, luas, daya tampung dan fasilitas)

Memang, dibandingkan contoh potongan berita Harian Kompas tulisan tentang Fulan dan gedung resepsi tidak persis sama. Kita hanya mencoba menulis dengan pendekatan atau logika struktur piramida terbalik.

Jika didekati dengan struktur piramida terbalik, bagian lead menjelaskan inti persoalan yang ingin dibahas: cara memperoleh tempat untuk resepsi pernikahan. Alinea atau paragraf kedua menawarkan alternatif (sewa wedding organizer) atau lakukan pencarian (browsing tempat-tempat yang mungkin).

Di bagian berikutnya, muncul beberapa pilihan tempat resepsi yang harus di-browsing. Ada rumah ibadah, ruang serbaguna perkantoran, ruang serbaguna di perumahan dan akhirnya, rumah sendiri.

Di antara pilihan-pilihan itu kita sediakan juga tabel. Setidaknya audiens mempunyai data perbandingan dalam menentukan tempat.

Hasilnya, jika artikel di atas dikeluarkan mustinya akan berguna. Ya, berguna untuk orang-orang yang sedang mengalami persoalan serupa.

Sampai sini dulu? Kita akan membahas penulisan storytelling pada kesempatan berikutnya.