Ramai-ramai Bikin Website Kedua

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on June 25, 2019 16:00 PM
Bagikan melalui :


Media online yang dikelola oleh perusahaan media tampaknya perlu makin waspada. Bagaimana tidak, media-media berbasis suplai konten ini kini tidak hanya bersaing dengan sesama media. Mereka kini berkompetisi dengan banyak perusahaan non media.

Perusahaan non media kian trampil dan rutin memasok konten di media onlone-nya. Bahkan mereka disokong oleh nara sumber ahli, sehingga produk konten yang dihasilkan memiliki kredibilitas yang lebih tinggi ketimbang racikan jurnalis media.

Beberapa media yang membutuhkan sumber berita tak jarang lantas merujuk artikelnya dari konten-konten milik perusahaan non media.

Serunya lagi, rumah konten yang dilahirkan oleh perusahaan non media bukan lagi rumah induk atau company website miliknya. Perusahaan ini membangun rumah baru dengan sajian yang bahkan jauh lebih keren ketimbang buatan peerusahaan media.

Salah satu sukses yang dapat jadi learning adalah situs www.happifyourworld.com yang dikelola oleh Softex. Kendati sebelumnya produsen pembalut wanita sudah memiliki situs induk bernama www.softexindonesia.com.

Happifyourworld bicara tentang seluk beluk, rona-rona, ilmu pemahaman dan serba-serbi kaum perempuan. Khususnya di usia remaja hingga milenial. UI dan UX-nya sangat berbeda dengan Softex Indonesia yang rapi jali.

Kendati lahir belakangan namun situs “anak” ini justru melampaui capaian situs induk. Ranking web secara nasional (menurut Similarweb) situs happifyourworld berada di posisi 14.916, sementara situs Softex Indonesia masih saja nangkring di peringkat 46.160.

Maka jelas pula jumlah total viewer-nya lebih banyak. Bahkan saking rendahnya, Similarweb tak bisa mendeteksi dan mengeluarkan angka jumlah viewer Softex Indonesia. Bandingkan dengan sang “anak” yang sudah diduyuni oleh nyaris 150 ribu pasang mata.

Peran media sosial dengan membawa nama atau identitas situs ikut memeriahkan sebaran konten. Untuk Instagram telah meraup lebih dari 23 ribu followers.

Situs ini dikelola dengan cantik, sembari mencari audiens baru lewat media sosial. Maka setidaknya Softex Indonesia kini memiliki dua entitas baru yang diraih melalui website baru dan media sosial.

Implementasi pemasaran konten Softex Indonesia pun diganjar penghargaan pada ajang Indonesia Content Marketing Awards (ICMA) 2019, Maret silam.

Unilever melakukan cara semirip. Pada brand Pepsodent dikenalkan situs www.tanyapepsodent.com. Anda pasti langsung ngeh terhadap tema web dan konten yang disodorkan. Soal kesehatan gigi. Tanya Pepsodent pun lebih banyak dikunjungi ketimbang www.unilever.co.id.

Tercatat sebanyak 969 ribu viewer, sementara Unilever Indonesia baru 195 ribuan. Tentulah angka ranking serupa hasilnya.

Sample lain, serunya ramai-ramai membangun web sendiri juga dilakukan Nestle. Meski tidak memprioritaskan pada satu produk atau brand, namun www.sahabatnestle.co.id menginspirasi betul audience-nya dengan cara memasak kue pukis Kitkat, atau sekadar memberi tips parenting.

Rapornya terbukti lebih baik. Jumlah viewer-nya 10 kali lipat lebih tinggi ketimbang www.nestle.co.id.

Website dengan konsep tematis dan suplai konten kontan menjadi tren hari ini. Ada lima hal terpenting alasan perusahaan non media membangun website media. Apa saja?

 

KEBUTUHAN BRAND AND PRODUCT AWARENESS BARU

Perusahaan makin kreatif. Dalam hal mengenalkan sebuah brand dan produk ditelisir pula seluk-beluk sekitarnya (beyond). Kemudian muncul kebutuhan menampilkan seluruh hal itu kepada khalayak. Jadilah sebuah konten yang bisa diceritakan. Mereka tak mungkin bicara lewat iklan yang berbayar, terlalu mahal.

 

ADA SUMBER INFORMASI, PERLU MEDIA SENDIRI

Segudang data dan informasi telah tersedia, maka mereka memerlukan sebuah media sendiri (owned media). Meski tidak menggunakan pola programatik, tetapi konten mereka dengan kelola SEO baik dan benar kerap kali muncul melebihi lainnya. Dunia digital, mobile first menjadi momentum yang membantu penyebaran informasi itu secara lebih cepat.

 

ADA AHLINYA, MENGAPA TAK JADIKAN NARA SUMBER

Sebuah produk sebelum dirilis kadang melalui proses riset oleh pakar yang diperbantukan. Bahkan para produsen itu sendiri sebenarnya juga pakar. Mereka sangat mengenal produk, kegunaan, manfaat hingga market-nya. Beda dengan media yang harus melakukan proses jurnalistik untuk mendapatkan statement pakar. Perusahaan non media ini sudah punya. Bahkan rumah sakit memiliki aset dokter yang bisa bicara dan memiliki nilai jual.

 

MENJADI “TEMAN” YANG MENGENALKAN DAN MEMBERI SOLUSI

Mengandalkan website corporate, perusahaan-perusahaan ini tak bisa berbicara sebagai “teman”. Lagi pula ada batasan yang tak memungkinkan website induk ini berubah. Walaupun ada pula yang menjelmakan sebagai etalase produk. Keterbatasan ini membangkitkan semangat membangun rumah agar audience merasa nyaman dan mendapatkan segala kebutuhannya. Dalam konteks media, kebahasaan yang digunakan pun bisa lebih cair, guyub, dan solutif.

 

MEMBUAT JEMBATAN PADA PROSES PENJUALAN

Ini adalah ujung dari semua alasan di atas. Ketika audience ramai, maka mereka mendapatkan aset calon konsumen. Kebetulan lagi, hari ini dan mendatang perdagangan elektronik adalah sebuah keniscayaan khususnya pada kaum milenial. Kanal yang mengantarkan pada pembelian produk pun disiapkan. Bisa langsung (jika tersedia delivery service) atau memanfaatkan online shop. (*)