Saatnya Mendayagunakan Konten untuk Mendapatkan Revenue Maksimal

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on April 03, 2018 15:00 PM
Bagikan melalui :


Apa resep menjadi seorang showman sejati? The answer may vary. Namun, bila Anda menanyakan hal ini ke Phineas Taylor Barnum, seorang pengusaha, politikus, dan filantropi asal Amerika yang kisah hidupnya baru saja diangkat kelayar lebar, dia akan mantap menjawab bahwa kontenlah resep suksesnya.

Setidaknya, itu yang saya simpulkan dalam film yang judulnya mengilhami judul artikel ini, yang kebetulan saya tonton dekat-dekat perayaan tahun baru 2018 lalu. Di film yang dibintangi Hugh Jackman sang Wolverine ini, Barnum jelas-jelas mengandalkan konten untuk membuat orang tergila-gila pada shownya.

Yup! Konten memang esensi terpenting dalam sebuah pertunjukan. Dengan konten yang pas, orang-orang akan tertarik untuk datang kesebuah pertunjukan. Tidak sembarang konten bisa membuat orang berniat untuk datang. Sekadar membeli tiket barang satu-dua dolar, guna menyimak pertunjukan tersebut.

Jika Anda seorang marketer yang mulai mempraktikkan konten marketing sebagai salah satu solusi marketing Anda, kisah Barnum sangat bisa dijadikan teladan. Dikisahkan sebagai anak seorang penjahit, Barnum tidak disiapkan untuk menjadi seorang jenius panggung. Jalan hidup yang dipilihnya pun adalah seorang akuntan.

Sebuah kesialan, membuatnya harus berpikir keras. Mencari jalan untuk bisa terus melanjutkan hidup. Menafkahi istrinya, Charity –yang diperankan dengan apik oleh Michelle Williams-, dan kedua anak perempuannya.

Kebetulan, Barnum adalah seorang pemimpi. Imajinasinya yang liar membuatnya terpikir untuk menghadirkan sebuah tontonan luar biasa.Yang bisamembuat orang berbondong-bondong dating ke lokasi pertunjukan.

Yang pertama dilakukannya adalah memikirkan konten. Hal-hal apa yang sekiranya menarik untuk audience di kota tempat tinggalnya.

Di percobaan pertama, dia salah mengambil keputusan. Meski sudah berusaha menghadirkan banyak hal-hal unik, namun konten yang disajikannya kurang pas dengan selera audiens. Alhasil, keuntungan yang diharapkan didapat tidak kunjung sampai.

Apa yang dilakukan Barnum? Dia merenung dan mendengar. Tetap konsisten untuk menampilkan keajaiban, dia mencoba meramu konten pertunjukannya agar lebih menarik untuk orang-orang. Menambahkan ide-ide baru, mengemasnya dengan lebih baik, dan membuatnya lebih terlihat oleh penduduk kota.

Hasilnya luar biasa. Konten yang disiapkan Barnum, mampu mendatangkan penonton berkali lipat banyaknya. Meski belum yakin dengan pertunjukannya, mereka sudah tergoda oleh kemasan yang dijanjikan.

Yang dilakukan Barnum adalah contoh proses konten marketing. Guna meraih atensi audiens, dia mempelajari apa yang sekiranya disukai oleh orang-orang di kotanya. Itu juga yang membuatnyamemilih “keajaiban” sebagai strategi konten.

Di awal, keajaiban yang ditawarkannya kurang berhasil memikat penonton. Namun, ia tak langsung mengubah strategi. Dia memilih untuk menajamkan kontennya, agar benar-benar pas dengan konsep “keajaiban” yang diinginkan oleh audiens. Dia mempelajari dan menganalisa proses pembuatan konten, untuk menghasilkan konten baru yang lebih ciamik.

Bukan itu saja yang dilakukannya, orang dibuatnya tak bosan-bosan dating berulang kali dengan menampilkan konten yang terusberkembang. Kreativitasnya dioptimalkan untuk selalu mendatangkan keajaiban yang berbeda, setiapmalam. Dia berhasil membangun engagement lewat barisan kontennya.

Sebagai konten marketer, kita tidak boleh berpuas hati saat orang berbondong-bondong dating ke owned media kita. Kita harus terus berkreasi. Menghasilkan konten yang luar biasa, agar orang yang dating menjadi pelanggan, engage dengan konten yang kita tawarkan, mempercayai keajaiban yang kita ceritakan.

Saat mereka terbuai, mereka rela untuk melakukan apa saja. Mengantri berlama-lama. Membeli merchandise, dan lain sebagainya. Mendatangkan revenue maksimal untuk perusahaan.

Bukan sekali saja Barnum melakukan hal ini. Julukan greatest showman semakin melekat saat dia mementaskan Jenny Lindt, seorang penyanyi kenamaan Swedia, berkeliling Amerika. Konten yang sudah bagus, tidak dibiarkan begitu saja. Dia memolesnya menjadi luar biasa.

Konser yang konon berlangsung tahun 1850-1852 ini, dihiasinya dengan konsep pertunjukan yang tidak biasa pada masanya. Membuat orang Amerika terpikat, menceritakan sedahsyat apa konser yang mereka tonton pada koleganya. Dan membuat penonton baru berbondong-bondong datang menyaksikan aksi Jenny, yang kala itu adalah penyanyi paling popular di Eropa, di atas panggung.

Menjadikan yang biasa menjadi luar biasa, dan hal special menjadi ekstravaganza tidaklah sulit. Selama kita mengenal audiens kita, dan mengetahui apa yang bisa membuat mereka terpikat. Mengeksekusi hal tersebut dalam konten yang kita tawarkan. Tentunya dengan sentuhan kreatif yang belum terpikirkan sebelumnya.

Simpel, namun harus terus dilatih. Dan akan lebih mudah bila kita bisa menemukan orang yang tepat untuk “mengeksekusi” ceritanya.

Saat Barnum bisa menceritakan keajaiban dengan sempurna, audiens pun tergerak serempak. Ini sejalan dengan hal yang selalu kami percayai di Grid Story Factory, that story moves people.



Photo source: The Economic Times