Seperti Apa Brand Papan Atas Bermain Content Marketing?

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on November 25, 2016 09:00 AM
Bagikan melalui :


Brand papan atas alias luxury brand ternyata tidak ketinggalan memainkan tren content marketing. Beberapa di antaranya bahkan piawai menggunakan konten untuk mendukung proses pemasaran yang mereka lakukan.

Berbagai cara mereka lakukan. Mulai dari membuat konten video sampai membuat media online yang di-set untuk berhadap-hadapan dengan media sejenis yang sudah lebih dulu ada di pasaran. Semuanya dilakukan, semata-mata untuk mendapatkan atensi, dan meyakinkan calon konsumen

Agar lebih detail, mari kita lihat satu per satu!

Hermes , Menerjemahkan Produk Menjadi Sebuah Pengalaman

Lebih dari 179 tahun berkarya di industri fashion, Hermes pada tahun 2016 ini ditaksir memiliki nilai brand 11,7 triliun dollar. Brand ini sudah menjadi sinonim dari komitmen desain dan selera yang luar biasa. Hal ini terbawa hingga konten yang mereka buat.

La Maison des Carrés atau yang lebih dikenal sebagai House of Scarves adalah destinasi online milik Hermes yang didedikasikan kepada aksesori paling ikonik  buatan brand tersebut: scarf. Situs ini didesain sedemikian rupa agar pengunjungnya bisa mendapatkan pengalaman sang desainer saat merancang produk. Semua hanya dalam satu kali klik. Selain itu pengunung punya kesempatan mengeksplorasi dunia Hermes, seperti event showcase, koleksi, video dan konten yang lebih spesifik.

Salah satu konten mereka yang cukup memukau adalah video dua menit yang mengabadikan koleksi flora dan fauna yang digunakan dalam desain scarf mereka tahun ini. Diperkaya bebunyian yang khas, penonton dibawa ke alam rimba. Pengambilan gambar yang memesona, menghidupkan flora dan fauna yang mereka pilih untuk penghias bahan-bahan bermutu pilihan brand tersebut.


Rolex dan Filosofi Brand

Brand yang berhasil meninggalkan produknya demi mengetahui persona audiensnya diyakini akan menghasilkan konten yang langsung menarik audiens. Begitulah kira-kira teori yang diyakini setiap content marketer.

Namun, untuk melakukannya tidaklah mudah. Diperlukan profil konsumen yang detail dan mendalam untuk menemukan calon konsumen ideal. Dan Rolex berhasil melakukan itu.

Hal inilah yang akhirnya mengilhami Rolex untuk menghadirkan sains dan eksplorasi sebagai tema utama websitenya. Rolex percaya bahwa konsumennya adalah orang yang merindukan eksplorasi. Untuk itulah, Rolex menghadirkan berbagai ekspedisi yang berkisah tentang eksplorasi ke tempat yang belum terjamah banyak orang. Semua konten yang mereka berikan, merupakan terjemahan dari filosofi brand tentang sebuah petualangan.


Tiffany, Merengkuh Kebahagiaan Abadi

Tiffany mencoba menghadirkan emosi dalam barisan konten yang diproduksi. Sama seperti sebelumnya, brand ini selalu mampu menampilkan romantisme sebagai ide setiap rancangannya. Selain Tiffany, belum pernah ada brand menjanjikan happily ever after sebagai tujuan dari penciptaan produknya.

Dalam bermain konten, Tiffany mengajak konsumen untuk mengomunikasikan emosi yang mereka rasakan saat membeli produk Tiffany. Mereka ingin setiap post yang muncul di Tumblr menggambarkan eksklusivitas perasaan dari seorang pemilik Tiffany. Mereka sadar bahwa memiliki satu dari sekian banyak koleksi yang mereka miliki bisa berarti mimpi yang jadi kenyataan bagi pemiliknya.


Bercerita Bersama Chanel

Gabrielle ‘Coco’ Chanel membuka toko pertamanya 21, Rue Cambon, Paris, tahun 1910. Sejak saat itu, brand Chanel  langsung diasosiasikan dengan sesuatu yang berkelas dan sophisticated. Dengan nilai brand sebesar 7.2 triliun dollar di 2016, Chanel sudah menjelma sebagai salah satu brand termahal di dunia.

Di websitenya Chanel mengajak audiens menikmati cerita tentang dunia Chanel yang terdiri dari beberapa bab. Di bab ke-5, Chanel bercerita tentang wewangian paling ternama sepanjang masa. Selain itu, brand ini juga bercerita tentang The Lion dan The Jacket, dan rahasia di balik pembuatannya.

Chanel menggunakan konten untuk mengajak pengunjung webnya melakukan perjalanan melalui sejarahnya yang panjang. Dan kisahnya bukan tentang pengguna, melainkan tentang bagaimana sebuah produk terwujud. Hal ini membuat pemilik produk Chanel merasa dihargai. Karena semua produknya memang dilimitasi untuk kapasitas produksi tertentu.


Berkelana Bersama Burberry

Bicara tentang marketing 2.0, brand-brand luxury harus banyak belajar pada Burberry. Langkah brand ini di ranah content marketing sangat imajinatif, orisinil, dan selalu menjadi pusat perhatian.

Tidak seperti Chanel yang bercerita tentang eksklusivitas, Burberry justru sebaliknya. Brand ini banyak berkolaborasi dengan berbagai brand lain untuk menghasilkan konten yang menarik. Salah satunya adalah kolaborasi mereka dengan Google, saat melempar sebuah campaign yang bertemakan real kiss

Menargetkan Millenials, kampanye yang dilakukan Burberry adalah mengirimkan ciuman buat yang tercinta yang ada nun jauh di sana, melalui aplikasi Burberry. Kampanye ini sukses besar. Ciuman ala Burberry tersebar di 200 negara, dan membuat audiens terikat dengan aplikasi mereka selama tiga menit lebih.

Baru-baru ini, Burberry kembali merilis terobosan baru di dunia digital lewat chatbot yang mereka luncurkan di London Fashion Week 2016. Mengadopsi tren “see-now-buy-now”  yang dipopulerkan oleh Tommy Hilfiger, chatbot yang berbasis Facebook Messenger sukses digunakan sebagai tools untuk membeli koleksi terbaru mereka, yang tengah dipresentasikan di runway. Semua orang bisa langsung berinteraksi dengan bot, dan membicarakan koleksi terbaru Burberry secara real time.

 

Menjadi Publisher ala Louis Vuitton

Jika Anda mendatangi website LV, Anda akan mendapati banyak cerita menarik dengan gambar berkualitas tinggi. Sebelumnya, website ini fokus terhadap jumlah konten, namun gagal mendapatkan outcomes. Sekarang, hal ini sudah berubah, seiring perbaikan yang mereka lakukan di sana-sini.

Menyadari bahwa saat ini adalah eracepat mengonsumsi konten, LV mengubah websitenya menjadi sebuah portal fashion. Mereka meliput event fashion terkini. Mengupdate produk andalan, dan memberikan akses behind the scene pada audiens. Semua artikel dihiasi dengan tombol share yang mudah ditemukan untuk dibagikan di media social audiens. Ya, mereka menjadi publisher!


Saat Patek Philippe Pamer Kebolehan

Berniat melawan tren yang ada di dunia digital, Patek Philippe mencoba untuk tampil beda. Alih-alih menyampaikan pesan modernitas, brand ini justru menampilkan kesederhanaan dalam webnya.

Video hitam putih tentang ayah-anak yang tengah bermain kriket, dan bagaimana hubungan ibu-anak yang harmonis, memperlihatkan bagaimana Philippe mencoba menampilkan kekuatan tradisi mereka.

Saat melihat websitenya, kita akan tersadar bahwa konten selalu menjadi bagian dari kisah mereka sejak jaman dahulu kala. Dunia Patek adalah dunia pencerita. Semuanya diterjemahkan dalam prinsip pembuatan arloji nan sempurna. Untuk digunakan oleh sosok yang tepat.