Sudahkah Konten Video Anda Optimal?

by : Grid


Posted on July 25, 2018 11:00 AM
Bagikan melalui :


Semua orang bisa membuat konten video. Tetapi tidak semua konten menarik perhatian. Salah satu kriteria keberhasilan konten video – dan bahkan konten apa pun -- adalah: audiens mau melihat dan lalu menikmatinya.

Potensi orang-orang yang menonton video memang besar. Survei Grid Story Factory pada Februari 2018 menunjukkan setidaknya 93,7% masyarakat Indonesia menonton video setiap hari di internet. Jumlah ini naik 56% dibandingkan tahun lalu. Fantastis.  

Data Facebook menyebutkan  video memiliki potensi menjangkau lebih dari 122 juta orang. Peluang ini jauh lebih besar dibandingkan Malaysia (21 juta), Filipina (69 juta), dan Vietnam (59 juta). Masih menurut Facebook: 25% audiens menghabiskan waktu menonton video di media sosial.

Well, masalahnya, kembali  ke awal tulisan, sudahkah kita membuat konten video yang mampu menarik perhatian dan membuat audiens potensial menonton?

 

Gunakan Preferensi, Tidak Hanya Demografi

Hukum pertama -- yang sudah lawas tetapi nyatanya memang penting -- dalam pembuatan konten adalah pengetahuan soal audiens. Kenalilah audiens dengan pengetahuan yang lebih dari sekadar aspek demografisnya. Anda harus tahu minat atau interest-nya, konteks materi (context), dan tujuan yang diharapkan (intent).

Pengetahuan tentang interest akan mengarahkan kepada kita saat membuat video. Isinya disesuaikan untuk mengarah ke audiens tertentu. Semua kreasi dan cara penyampaiannya berorientasi kepada minat, hobi atau aktvitas sehari-hari audiens.

Context bermaksud agar video yang disampaikan sesuai dengan penempatan momen maupun gawai yang digunakan audiens. Misal, video 30 detik cocok bagi audiens yang membutuhkan informasi singkat dan memiliki mobilitas tinggi.

Baik interest maupun context, pada akhirnya harus disandingkan secara serasi dengan Intent. Pesan yang terkandung di dalam video secara jelas harus tersampaikan. Adakah untuk penawaran produk, informasi event atau mungkin jenis promo lainnya.

 

Format dan Kelengkapan yang Sesuai

Setiap platform (misal: Facebook, Instagram, dan YouTube) memiliki karakteristik khas. Begitupun dalam menyajikan konten video. Namun rata-rata memiliki persamaan: semua konten video dibuat relevan untuk penghuni di dalamnya.

Penggunaan caption di dalam video, resolusi HD (High Definition), maupun deskripsi video yang dilengkapi hashtag dan judul relevan merupakan tiga komponen yang harus dipertimbangkan dalam distribusi konten video. Penamaan yang lengkap di setiap deskripsi dapat membantu meningkatkan peringkat secara SEO.

Di Instagram, konten dapat dimodifikasi menjadi versi tanpa suara atau dalam format vertikal jika ingin di-pos dalam kanal Stories maupun IGTV. Pastikan juga bahwa durasi video tidak melebihi 1 menit jika akan diunggah di feed Instagram. Di Twitter durasi agak longgar: 2 menit 20 detik.

Menurut ThinkWithGoogle, audiens memperhatikan penuh video yang ditayangkan hanya pada 5 detik pertama. Nah, seperti halnya dengan lead atau teaser dalam tulisan, maka 5 detik pertama adalah peluang yang memberi tantangan kreatif dalam pembuatannya. Betotlah perhatian audiens agar mau menonton.

 

Buat Langkah Termudah

Konten video yang bagus memiliki fitur interaktif.  Inilah fitur yang bisa mengajak audiens melakukan suatu tindakan (call to action; CTA). CTA mendorong orang untuk berkunjung, melakukan pemesanan, mendaftar keanggotaan atau melakukan telepon/e-mail.

Pastikan video tidak terlalu bertele-tele dalam mendorong audiens melakukan CTA. Satu klik saja. Penempatan link CTA dapat diletakkan di annotation, deskripsi video, maupun secara native di dalam tayangan.

 

Ukur Hasilnya

Untuk mengukur tingkat keberhasilan konten video, parameter di beberapa metrik yang tersedia dapat dijadikan acuan. Parameter jumlah tayangan dapat mengetahui berapa kali video dilihat. Juga merek dan tipe gawai yang digunakan.

Pun metrik dapat mendeteksi durasi rata-rata audiens dalam menonton video. Apa lagi? Anda juga bisa menfaatkan parameter engagement untuk mengetahui seberapa banyak video dikomentari maupun jumlah audiens yang merespons.

Dengan tools pengukuran Anda bisa melihat konversi. Dari sekian banyak pengunjung berapa persen yang melakukan CTA. Termasuk jika mereka melakukan pembelian dari link yang disediakan.

 So, mari kita membuat video yang menarik, sekarang.