Tugas “Story Purpose” The Lego Batman Movie Lebih Ringan Karena The Lego Movie

by : Sigit Triwahyu


Posted on March 03, 2017 15:00 PM
Bagikan melalui :


Akankah The Lego Batman Movie mengulang sukses, The Lego Movie, yang membuat pundi-pundi perusahaan berpusat di Billund, Denmark ini meningkat 15% di tahun 2014? Bisa jadi, iya, karena itu salah satu tugas dari “story purpose” film ini. Namun, ada satu tugas yang jauh lebih mendasar yang sepertinya tak perlu dilakukan lagi karena sudah dilakukan oleh The Lego Movie sebelumnya.

The Lego Movie punya satu pesan, yang menurut saya, berdampak lebh mendalam dan lebih prinsip terhadap konsumen Lego. Ini karena sangat relate dengan apa yang terjadi pada konsumen dan produk Lego. Benar-benar sebuah “story that moves people”. Setidaknya bagi saya.

The Lego Movie adalah film animasi 3D dengan menggunakan minifigur Lego sebagai pemainnya. Film ini bercerita tentang Emmet Brickowski, seorang pekerja konstruksi Lego. Ia menjadi “orang yang terpilih” untuk memimpin menyelamatkan dunia Lego dari tirani Lord Business.

Sebenarnya, kisah Emmet ini adalah fantasi seorang bocah bernama Finn. Fantasinya ia tuangkan lewat koleksi Lego ayahnya, yang ia juluki sebagai The Man Upstairs (koleksi berbagai macam Lego ayahnya berada di basement rumah mereka.) Finn memadu padankan berbagai Lego koleksi itu menjadi karakter dan bentuk baru.

Untuk melakukan itu, Finn harus membongkar bangunan-bangunan Lego koleksi ayahnya yang sudah terbangun sesuai lembar petunjuknya. Bagi sebagian besar orang dewasa, membangun Lego sesuai lembar petunjuknya adalah sebuah “pencapaian.” Apalagi jika kategori Lego set-nya adalah yang terumit dengan jumlah bricks yang banyak.

 Dan setelah selesai terbangun, kepuasan rasa terlengkapi dengan memajangnya sebagai “hiasan.” Pajangan yang tak boleh disentuh, apalagi dibongkar. Tak heran bila di antara laci-laci bricks-nya punya ayahnya Finn, ada laci yang isinya lem plastik. Lem untuk merekatkan bricks Lego agar tidak terlepas setelah dibangun sesuai lembar petunjuknya. Dan lem inilah yang dalam khayalan Finn, jadi alat jahat Lord Business mengendalikan dunia Lego. Emmet dengan pasukannya, berbagai bentuk Lego yang dibuat oleh Finn berdasarkan fantasinya sendiri, menentang pengendalian ini oleh Lord Business.

Cerita di The Lego Movie ini seolah berkata bahwa ada pemahaman konsumen yang “salah” terhadap produk Lego. Pada umumnya, tipikal konsumen Lego seperti The Man Upstairs adalah cenderung mengikuti lembar petunjuk. Padahal, bricks Lego sendiri didesain sedemikian rupa agar bisa digabung-gabungkan dengan berbagai cara dan tetap mudah untuk dibongkar lagi. Artinya, desain bentuk bangunan Lego itu hanya dibatasi oleh fantasi yang memainkannya.

Mengutip key message yang disampaikan oleh Michael Jr. yang kemudian dikutip oleh Michelle Lin di artikel How to Give Meaning to Your Content di Contentmarketinginstitute.com, “When you understand your ‘why,’ your ‘what’ has more purpose,” cerita Lego The Movie inilah “why”-nya. The Lego Movie, lewat tim penulis cerita, paham sekali mengapa mereka perlu menyampaikan cerita ini.

Lalu “what” mereka adalah film ini. Dari awal, cerita film ini sudah menegaskan bahwa konsep produk Lego itu berprinsip “free your imagination.” Konflik yang terjadi pun dibangun berdasarkan “menurut lembar petunjuk” yang diwakili Lord Business melawan “tidak menurut lembar petunjuk” yang diwakili Emmet Brickowski.

Dan “more purpose” film ini ada di adegan di akhir film. Adegan saat dengan “legowo” ayah Finn, The Man Upstairs, akhirnya menyadari “kesalahannya” yang terlalu berorientasi pada lembar petunjuk dan membiarkan Finn dan adiknya menjelajah imajinasi mereka dengan bricks Lego. Akhir film ini sangat mengena dan berhasil membuat saya berjanji di hadapan anak-anak saya, tidak akan lagi melarang-larang mereka membongkar set Lego dalam mewujudkan fantasi mereka.

The Lego Batman Movie, tugas “story purpose” Anda lebih ringan sepertinya!

 

Credit Photo: Courtesy of Warner Bros. Picture - © 2016 Warner Bros. Entertainment Inc. and Ratpac-Dune Entertainment LLC. All Rights Reserved