Wiro Sableng 212, Pendekar Marketing Kelas Dunia

by : Junior Respati Eka Putro


Posted on August 29, 2018 15:00 PM
Bagikan melalui :


Jangan remehkan Wiro Sableng. Pendekar 212 ini punya jurus sekelas superhero dunia.

Sama seperti generasi 90-an lainnya, Wiro Sableng adalah salah satu tokoh mewarnai kehidupan saya saat beranjak remaja. Saat masih bercelana biru selutut, di tas sekolah saya selalu terselip satu atau dua judul novel Wiro Sableng karya Bastian Tito yang saya beli di sebuah kios majalah yang ada di Pasar Pondok Gede, yang tidak jauh dari rumah.

Dan, sama seperti fans Wiro Saksana -nama asli Wiro Sableng- yang lain, saya termasuk yang penasaran dengan produk visualnya. Makanya, saat pertama kali diangkat ke layar lebar di tahun 1988 (ya, Wiro sudah pernah masuk bioskop sebelumnya, red), saya sempat juga menyaksikan aksi murid Sinto Gendeng ini di film berjudul Sengatan Satria Beracun yang dibintangi Tony Hidayat.

Namun, karakter Wiro baru terasa hidup saat tokoh ini diperankan oleh Kenken alias Herning Sukendro dalam sinetron seri yang diputar di RCTI dan soundtrack-nya dinyanyikan oleh Bondan Prakoso. Meski akhirnya digantikan Abhie Cancer yang rada ganteng, tetap saja karakter Wiro versi Kenken yang menempel di kepala.

Setelah lama tak terdengar rimbanya, awal 2017 silam, sekitar bulan Februari, ada kabar yang tak disangka-sangka. Wiro Sableng terpilih jadi film Indonesia pertama yang akan diproduksi oleh Fox International Production. Menurut Presiden FIP, Tomas Jegeus, Fox tertarik ikut memproduksi Wiro Sableng karena kagum dengan visi Lifelike, rumah produksi Indonesia yang sebelumnya disebut-sebut akan kembali mengangkat Wiro Sableng ke layar lebar.

Bahkan, Jegeus sempat berujar tidak akan tanggung-tanggung mendukung film yang memasang nama Vino G. Bastian, bintang film Indonesia ternama yang juga putra dari pencipta karakter Wiro Sableng, Almarhum Bastian Tito, sebagai pemeran utama.

"Dan kalau soal budget, kami bersedia mengeluarkan sebanyak mungkin yang dibutuhkan," ucap Jegeus dalam konferensi pers film Wiro Sableng di JS Luwansa Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, tanggal 9 Februari 2017 silam.

 

***

Janji yang diucapkan Jegeus tidak main-main. Dengan dukungan FIP, Wiro Sableng menjelma menjadi pendekar sakti mandraguna. Setidaknya, dalam urusan marketing.

Jauh sebelum filmnya rilis, sosok Pendekar Nagageni 212 ini sudah jadi omongan lantaran cuplikan produksinya yang kala itu masih berupa potongan syuting kasar. Keterlibatan FIP, membuat banyak pihak di Indonesia jadi kepo, ingin tahu seserius apa sih sebuah film yang didanai Fox dibuat.

Ini jadi antitesa jika dibandingkan dengan film-film Indonesia lainnya. Biasanya, promosi sebuah film dimaksimalkan saat filmnya mendekati final. Namun, di kasus Wiro Sableng, belum ada satu adegan pun yang difinalkan, proses marketingnya bisa berjalan. Dan, sudah banyak Netizen yang berkomentar, mendukung proses pembuatan filmnya.

Sempat vakum beberapa saat, tim marketing FIP kembali berulah. Menjelang dirilisnya Deadpool 2 di Indonesia, sosok Wiro Sableng tiba-tiba muncul dalam potongan trailer-nya. Pendekar bersenjata kapak 212 ini seakan-akan ikut serta dalam audisi yang digelar Deadpool untuk mencari anggota tim superhero bikinannya.





Das! Di sini kembali terlihat kekuatan Fox sebagai perusahaan internasional, Dengan mudahnya, mereka bisa menggunakan aset produksi mereka untuk memaksimalkan proses marketing di pasar tertentu.

Aktivitas marketing ini membuat Fox mendapatkan keuntungan ganda. Trailer yang mereka lepas di YouTube berhasil menarik minat pecinta film Indonesia. Terbukti, beberapa akun YouTube yang menampilkan video tersebut dikunjungi orang hingga jutaan kali. Hanya dalam hitungan minggu. Dan penjualan tiket Deadpool 2 di Indonesia bisa dibilang sukses besar. 
Siapa membantu siapa? Pertanyaan ini sulit dijawab. Karena aktivitas content marketing yang dilakukan Fox menguntungkan bagi keduanya. Bagi Deadpool, munculnya Wiro Sableng dan Anggini di trailer jelas memuluskan jalannya ke pasar Indonesia. Mengacu ke teori jurnalistik, ada unsur prominence dan popularity di dalamnya.

Sementara, bagi film Wiro Sableng, kemunculan dua tokoh utama ini semakin membuat penonton film Indonesia berdebar-debar. Menantikan kemunculan dua karakter ini di bioskop.

Selain meLalui trailer Deadpool 2, layaknya film superhero mancanegara, Wiro Sableng juga memainkan marketing mix yang pandai. Game, area yang amat dekat dengan film, dijadikan sarana untuk memperkenalkan karakter ini ke generasi yang lebih muda. Setelah digosipkan sekian lama, akhirnya Wiro Sableng benar-benar muncul sebagai karakter di game Arena of Valor (AoV) yang tengah populer dimainkan remaja Indonesia. Bersama-sama dengan Superman dan Batman, Wiro diresmikan sebagai salah satu jagoan game ini di tanggal 29 Juli 2018 silam.



 

***

 

Dari Wiro Sableng dan FIP kita bisa belajar bahwa marketing bisa berhasil jika dilakukan dengan benar. Kepiawaian tim marketing Wiro Sableng memainkan timing dan story menjadi kunci meningkatnya minat publik terhadap film yang dirilis tanggal 30 Agustus 2018 ini.

Story? Ya benar, story memegang peranan penting. Tanpa story yang kuat, kemunculan Wiro dan Anggini di trailer Deadpool 2 tidak akan memorable. Begitu pun aksi Wiro di AoV. Tanpa cerita yang kuat, tidak akan membuat gamer milenial tertarik untuk mencari tahu asal-usul karakter yang sebenarnya sudah seumur om dan tante mereka.

Bolehlah kita berbangga, kualitas marketing Wiro Sableng sudah setara dengan superhero internasional. Setelahnya, kekuatan film yang harusnya bicara. Karena, sehebat apapun proses marketingnya, produk harus proven, tidak mengecewakan dan memenuhi ekspektasi yang dimunculkan selama proses marketing.

Mari kita lihat sama-sama!


Sumber Foto: kompas.id