Xiaomi Mengisi Komunitas, Kini Komunitas “Mengisi” Xiaomi

by : Vaksiandra Nuryadi


Posted on May 07, 2018 16:00 PM
Bagikan melalui :


Xiaomi sebenarnya boleh dibilang anak bawang, baru lahir kemarin sore. Tahun 2013 memulai produksi smartphone, dan waktu itu tak punya budget besar untuk promosi. Di antara nama-nama seperti Samsung, Apple, Asus, Sony, LG, jelas Xiaomi tak ada apa-apanya. Bahkan ketika merilis seri Xiaomi Redmi, tak sedikit pun ada proses marketing layaknya sebuah produsen merilis produk untuk pertama kalinya di dunia.

Bandingkan dengan Oppo atau vivo. Bahkan vivo belakangan menggelontorkan miliaran dolar agar bisa menjadi sponsor resmi ajang Piala Dunia 2018 Rusia. Oppo menggaet para pesohor menjadi duta produk yang diharapkan memberi citra kuat pada produk dan brand-nya.

Di Indonesia, produsen Tiongkok dan lokal jor-joran membuang miliaran rupiah menjadi sponsor acara-acara televisi dengan rating tinggi. Demikianlah upaya yang dilakukan produsen demi mengenalkan nama dan membangun brand.

Tetapi Xiaomi?

Bahkan tak ada rencana mendirikan kantor cabang ke negara lain selayaknya proses bisnis yang digelar sebuah produsen. Di India misalnya, tidak berdiri sebuah branch office yang bakal memudahkan melakukan pemahaman pasar lokal, membuat strategi pemasaran dan penjualan, dan menyediakan stok barang.

Namun, Xiaomi membuat jurus yang biasanya justru dipakai ketika produk sudah eksis di pasar. Apa itu? Mengisi komunitas dengan pengetahuan produk, mengajak berkolaborasi, memahami kebutuhan dan kemauannya, menciptakan ruang di mana mereka bisa berekspresi. Tentu saja, Xiaomi tak asal membidik komunitas. Mereka adalah anak muda yang belum punya referensi kuat pada salah sebuah brand. Mereka ingin tampil dengan eksistensinya sendiri, dan dengan begitu mereka punya kebanggan a la-nya sendiri.

Siapa yang ditunjuk untuk mengisi komunitas ini?

Lei Jun, sang founder sekaligus CEO membajak Hugo Barra. Barra adalah VP dan juru bicara Android Division Google kala itu. Kenyang pengalaman membidani lahirnya Android selama lima tahun. Jun berharap besar pada Barra yang tahu persis soul Android.

Barra membangun komunitas di India dan sukses. Padahal, secara teknis Xiaomi Redmi jelas kalah spek dengan Samsung. Terlepas dari faktor harga yang miring (waktu itu dibanderol sekitar Rp 1,5 jutaan), smartphone dengan prosesor yang dipasok oleh Mediatek ini banyak dibicarakan di media sosial. Mem-viral meski secara penjualan belum memuaskan. Untuk hal ini ada faktor penyebab lain, yaitu ketersediaan produk di mana hanya dijual lewat online shop.

Di India jumlah  anggota komunitas melejit. Hal ini lalu menular ke Indonesia. Mi Fans, begitulah sebutan barudak penggemar Xiaomi. Di Indonesia, anak-anak muda mempelopori. Karakter mereka serupa dengan di India. Bahkan tahun 2015, Hugo Barra tak mengira jumlah Mi Fans di Indonesia amat besar. Jumlah follower Facebook-nya menembus 55 ribu akun. Sekarang sudah nyaris 1 juta like.

Follower Twitter sejumlah 171 ribuan. Follower Instagram ada 391 ribuan. Lalu, muncul gerakan lokal untuk membuat akun sendiri-sendiri, seperti mifans_djogja, mifans_purwokerto, mifans_jakarta, mifans_solo dan seterusnya.

Xiaomi Community adalah modal besar yang menjulangkan nama Xiaomi. Mereka bahkan harus diberi wadah untuk bersaling berinteraksi. Maka, di website Xiaomi, Mi Community dibuatkan kanal tersendiri. Untuk menjadi member, Anda bisa mendaftar secara cuma-cuma. Seorang anggota punya hak untuk mengisi blog. Dengan kata lain, selain admin, konten pun datang dari saluran User Generated Content (UGC).

Konten bahasannya macam-macam. Mulai sekadar promosi, user review, berbagi hasil bidikan kamera dengan smartphone Xiaomi, tips dan trik, laporan pandangan mata dari event Xiaomi, dan beragam lagi. Untuk ukuran sebuah web non berita, jumlah viewer per artikelnya cukup tinggi. Rata-rata sekitar 2.000 viewer. Bahkan untuk konten tertentu bisa tembus lebih dari 10 ribu viewer plus engagement di atas 50 user.

Mi Fans juga tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Tercatat lebih dari 30 kota. Sementara di level dunia sudah 12 negara. Maret silam, giliran Filipina ambil bagian. Konsep pengelolaan Mi Community sebenarnya mirip dengan forum pada web tempo dulu. Ada pulihan moderator relawan di sana. Tentu saja, tak afdol jika ruang kumpul digital ini tak tersedia dalam versi mobile.

Apakah cara ini memberi efek pada penjualan?

Boleh jadi. Sebab, di India, pada akhir tahun 2017 silam, berita mengejutkan membuat Samsung gigit jari. Market share Xiaomi meroket mencapai 25 persen melewati Samsung yang hanya 23 persen. Tipis?

Ya, tetapi ini bisa jadi start baik. Bandingkan dengan akhir tahun 2016. Kala itu, pasar India meneguhkan nama Samsung sebagai pemimpin pasar dengan share 24 persen. Xiaomi? Hanya duduk di ranking empat dengan angka 9 persen.

Hugo Barra pun pernah mengakui ada efek dinamika komunitas kepada penjualan. Jika sebuah seri rata-rata habis diborong sekitar enam bulan di negara lain. Di Indonesia, dengan jumlah yang sama, bisa laku lebih cepat. Sekarang, membawa Xiaomi tak kalah gagah dengan menggenggam Samsung atau LG. (*)