Perhatian-perhatian: 6 Jurus B2B E-Mail Marketing

by : Eddy Suhardy


Posted on January 31, 2019 13:00 PM
Bagikan melalui :


Konvesional, tetapi tetap ampuh. Jangan remehkan B2B Content Marketing via e-Mail.

Hari ini, kantor mana sih yang tidak punya alamat e-mail? Setiap orang punya e-mail sebagai salah satu hub dalam aktivitas komunikasi. Dari staf sampai petinggi perusahaan. 

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2013 menjelaskan, pasal surat elektronik ini ada di peringkat pertama urgensi penggunaan internet di sektor bisnis. Hari ini rasanya masih. Maklum APJII belum meneliti lagi, sih.

Dengan segala karakteristiknya, e-mail memang maknyus menjadi medium untuk menyebarkan konten. Langsung jleb ke target dan eh, personal pula.

Secara statistik beberapa hasil riset B2B e-mail marketing menunjukkan:

  • 59% B2B marketer menyatakan e-mail adalah medium paling efektif dalam mendatangkan revenue.
  • Direct Marketing Association (DMA) membeberkan, e-mail marketing mengalirkan uang 43 dollar dari setiap 1 dollar biaya yang digunakan.
  •  87% profesional menggunakan e-mail saat berkomunikasi untuk mendapatkan lead generation
  • click-through rate (CTR) e-mail B2B, 47% lebih tinggi dibanding e-mail B2C 

Dengan fakta semacam itu, e-mail rasanya memang layak digunakan saat marketer bermain di wilayah B2B Content Marketing. Bukan hanya untuk mempromosikan, lebih jauh lagi, bisa mengembangkan hubungan.

Persoalannya adalah: konten apa yang sebaiknya ada di dalam e-mail?

Logikanya untuk menjawab pertanyaan itu kita perlu tahu satu hal: kepada siapa konten hendak diberikan. Artinya, kita perlu membuka daftar nama orang yang disasar. Juga, sudah barang tentu, alamat  e-mail-nya, ya kan?

 

Daftar Pelanggan

Secara garis besarnya ada dua kategori dalam daftar. Ada yang sudah menjadi “pelanggan” konten dan ada yang belum.

Untuk yang sudah, kita perlu menelisik kira-kira informasi seperti apa yang dibutuhkan dan atau menarik bagi mereka. Hal yang sama juga berlaku untuk yang belum pernah menerima konten via e-mail dari kita.

Untuk yang belum pernah menerima, kita perlu konten tambahan, yakni perkenalan diri berikut di bidang apa layanan atau produk kita berada. Tentu akan lebih bisa memberi gambaran jika kita bisa meyakinkan bahwa akan banyak manfaat yang didapat apabila calon pelanggan berlangganan konten – misal, melalui e-newsletter -- dari kita.

Kalau kita sudah memiliki aneka topik menarik yang akan kita share, kita bisa membuat penjadwalan.  Kapan topik A kita kirim, kapan pula topik B, C dan seterusnya. Intinya, ada sebuah rencana konten.

 

Rencana Konten

Rencana konten kadang-kadang bisa berubah. Biasanya, hal yang membuat perubahan adalah adanya sebuah situasi di mana perhatian orang tertuju kepada isu tertentu. Kebetulan pula isu atau situasi tertentu yang terjadi bisa dikaitkan atau relevan dengan produk yang kita jual.

Misal, ketika tiba-tiba terjadi gempa di berbagai daerah di Indonesia,  produsen bahan bangunan bisa saja mengganti topik konten yang direncanakan dengan konten yang relevan dengan situasi itu. Konten yang dibuat selain berempati atas musibah yang terjadi, juga mengirimkan konten tentang tips membangun rumah atau bangunan tahan gempa.

Situasi atau kondisi tertentu bisa saja kita prediksi. Misal dengan melihat lagi hal yang biasanya menjadi trending topic atau peristiwa yang diperkirakan akan populer. Perhelatan Asian Games pada Agustus lalu misalnya, bisakah kita kaitkan dengan layanan atau barang yang hendak kita promosikan?

Konten yang menarik dan atau penting bagi target adalah concern utama kita. Kalau dalam dunia jurnalistik ada sebuah rumus yang bernama “news value”

Orang akan tertarik atas konten yang memiliki tingkat aktualitas,  kedekatan (proximity; bisa karena kedekatan geografis, minat, bidang yang digeluti), keunikan, keluarbiasaan, orang terkenal. Masih banyak lagi sebenarnya.

Produk barang atau jasa unik bisa menarik perhatian. Hasil riset terbaru juga menarik perhatian. Apalagi kalau berhubungan dengan line of business target yang Anda sasar.

Satu hal lagi yang biasanya sangat menarik untuk digarap dalam B2B content marketing adalah soal janji keuntungan. Diskon khusus pada periode tertentu, misalnya. Atau, bagi 10 orang pertama yang melakukan subscribe akan memperoleh tiket gratis untuk mengikuti sebuah seminar bisnis prestisius. 

Janji keuntungan bisa saja tidak selalu terkait dengan potongan harga. Gratis mengunduh e-book hasil survei yang dilakukan oleh brand kita, juga sebuah janji yang disukai; khususnya oleh mereka yang memang selalu ingin mengembangkan pengetahuan.

 

Cara Penyajian

Ada banyak ragam penyajian konten. Tekstual, visual, video. Pada umumnya orang tertarik dengan hal yang visual (video termasuk).  Bisakah kita menyajikannya?

Yang jelas, cara penyajian konten seperti apa pun harus memperhatikan durasi. 

Ringkas, padat, itu bagus. Tapi jangan lupa, meski compact, tetap harus bisa menggambarkan pesan yang Anda inginkan.

Jangan panjang dan bertele-tele, karena audiens Anda sibuk. Belum lagi dalam satu hari mereka menerima sekian ratus e-mail.

Apakah konten berdurasi panjang selalu akan di-skip oleh penerima e-mail? Hmmm, tergantung. Jika konten Anda memang dianggap penting dan menarik, hal ini tidak berlaku.

Konten berupa hasil penelitian terbaru misalnya, boleh jadi malah akan membuat penerima konten bisa berlama-lama membaca hingga tuntas. Apa lagi kalau dijadikan white paper. Atau cara penyajiannya memang tak membosankan (misal dalam bentuk infografis atau videografis).

Dalam kaitan dengan cara penyajian, jangan lupakan kebiasaan orang membaca di layar (laptop dan terutama mobilephone). Susunlah konten dengan acuan: bahwa orang biasanya membaca secara scanning.

Jika konten Anda berbentuk tekstual dan visual, berikan judul menarik, intro atau teaserciamik (yang mengundang rasa penasaran) serta body tulisan yang diselang-selingi oleh gambar, ilustrasi, video, agar matanya terhenti di poin-poin penting yang Anda inginkan.

Judul biasanya memiliki ukuran huruf lebih besar dibanding teaser/intro. Sedangkan point size untuk intro atau alinea pembuka lebih besar dan bold dibanding body tulisan.

 

Sediakan Landing Page

Jika topik dari konten yang Anda buat memang menarik, tentu audiens Anda menjadi tergerak untuk mencari tahu lebih banyak. Itu sebab, jangan lupa menyediakan tombol link ke web atau blog dari brand Anda.

Konsekuensinya, konten yang berisi penjelasan lebih jauh dari konten yang dikirim via e-mail memang haruslah tersedia.  Ngapain juga orang sudah berusaha masuk ke web Anda tetapi isinya tak berhubungan dan atau malah kosong.  Jangan sampai terjadi. Pelanggan yang kecewa sangatlah buruk buat bisnis.

Tombol lain yang mustinya ada adalah tombol share. Orang yang merasa bahwa konten Anda sedemikian bagus dan bermanfaatnya akan dengan suka rela membagikan informasi yang diperoleh. 

Si penerima konten tinggal melakukan forward kepada rekan atau kolega bisnis. Dan kita akan memperoleh pelanggan baru serta menawarkan undangan kepada calon pelanggan baru kita untuk berlangganan konten dari kita.

 

Waktu Kirim

“Timing is everything” kata orang Barat.  Memang belum ada penelitian di Indonesia tentang “waktu yang tepat untuk mengirimkan konten via e-mail”.  Namun di beberapa survei di Amerika,  ada semacam trend pskilogis tentang  saat-saat orang membuka e-mail serta meresponsnya.

Survei itu menyebutkan bahwa hari Selasa, Rabu, Kamis, biasanya menjadi hari yang pas untuk mengirim e-mail bagi kalangan B2B.  Sementara untuk waktu pengiriman berkisar pada pukul 10.00 pagi.






Ngomong-ngomong soal timing, Anda bisa melakukan eksperimen. Lakukan percobaan, catat hasilnya. Anda akan menemukan pola pada hari dan pukul berapa respons penerima konten paling tinggi terjadi.

Arti lain: Anda memang perlu bekerjasama dengan rekan IT di brand Anda, untuk memasukkan script dalam konten yang Anda kirim agar kebiasaan itu bisa terdeteksi.

 

Nama Familiar, Subjek Menggoda

Jangan sekali-sekali mengirimkann e-mail dengan nama pengirim seperti “noreply@perusahaan.com”. Jika Anda melakukan hal ini, maka besar kemungkinan si penerima akan memasukan e-mail Anda dalam folder spam.

Memakai nama sendiri diikuti dengan alamat e-mail brand Anda sangatlah dianjurkan. Kenapa? Karena si penerima merasa lebih nyaman. Ya, setidaknya si penerima merasa berhubungan dengan seseorang. Bukan mesin.

Yang tak boleh diabaikan adalah subjek e-mail. Ini penting, malah.  Dengan banyaknya jumlah e-mail yang diterima setiap hari, subjek e-mail menjadi pertaruhan pertama adakah e-mail Anda bakal dibuka atau tidak.

 

 

Biasakan menulis subjek dengan sesedikit mungkin kata. Dalam konteks bahasa Indonesia, tiga-empat kata pendek sudah cukup. Subjek dengan kalimat “Diskon 70% Minggu Ini” lebih bertenaga untuk menggerakkan hati untuk membuka daripada “Potongan Menarik yang Akan Anda Dapatkan Selama Minggu Ini”.

 
Well, content marketing melalui e-mail biarpun lawas, tetaplah sakti. Silahkan periksa berbagai riset agar Anda lebih percaya.